PDF -BAB II - Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Cakupan Serat Centhini Adalah Sangat Luas Berkaitan Budaya Jawa Abad Ke16
Wait Loading...


PDF :1 PDF :2 PDF :3 PDF :4 PDF :5 PDF :6


Like and share and download

Cakupan Serat Centhini Adalah Sangat Luas Berkaitan Budaya Jawa Abad Ke16

BAB II - Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PDF Serat Centhini Jilid 1 Kisah Pelarian Putra Putri home Home kmc gen tr serat centhini jilid 1 kisah pelarian putra putri sunan giri pdf PDF pengantar etnobotani Staff Site Universitas Negeri Yogyakartastaffnew uny ac id upload DIKTAT+ETNOBOTANI

Related PDF

Serat Centhini Jilid 1 Kisah Pelarian Putra Putri - home Home

[PDF] Serat Centhini Jilid 1 Kisah Pelarian Putra Putri home Home kmc gen tr serat centhini jilid 1 kisah pelarian putra putri sunan giri pdf
PDF

pengantar etnobotani - Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

[PDF] pengantar etnobotani Staff Site Universitas Negeri Yogyakartastaffnew uny ac id upload DIKTAT+ETNOBOTANI pdf
PDF

EKOKRITIKISME SARDONO W KUSUMO: GAGASAN - Core

[PDF] EKOKRITIKISME SARDONO W KUSUMO GAGASAN Core core ac uk download pdf 144236762 pdf
PDF

BAB I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Sanguning - ETD UGM

[PDF] BAB I PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Sanguning ETD UGMetd repository ugm ac id 74654 S2 2014 338318 chapter1 pdf
PDF

historiografi pesantren - GEOCITIESws

[PDF] historiografi pesantren GEOCITIES ws geocities ws joko sayono historiografi pesantren pdf
PDF

BAB II - Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

jenis atau adanya perubahan jenis kelamin adalah hal yang sangat tidak lazim Masyarakat akan menganggap Karena luasnya cakupan pembahasan tentang komunitas gay individu atau dalam lingkup luas yang berarti masyarakat Indonesia dan Yoni (kemaluan laki laki), Serat Centhini juga merupakan hasil dari
PDF

PDF Applying Triphasic Training Methods Van Dyke Strengthvandykestrength Applying Triphasic Training Methods for CSCCa Final pdf PDF Excerpt from “Triphasic Training” by Cal Dietz and Ben Peterson coachkengrace Ten 20Steps 20of 20Muscle 20Contraction pdf

cal y mayor

TEMA 05: INGENIERÍA DE TRÁNSITO

medigraphic pdf s anaradmex arm 2003 arm Dr Manuel Cal y Mayor Villalobos Anales de Radiología México 2003;3 176 El pasado 24 de abril se realizó la sesión ordinaria del Cole gio Nacional de Médicos Especialistas en Radiología e Ima gen, A C , en el

Calça Burda

critérios ergonômicos no vestuário - Udesc

PDF qualquer à sua medida Burda Style burdastyle br wp content uploads fasciculo2 pdf PDF CÓMO TOMAR LAS MEDIDAS TABLAS DE MEDIDAS BURDAtailormade pt newsletter imagens downloads tabla medidas pdf PDF Adaptations to a Subterranean Environment

Calabri in Festa

bande musicali calabresi - Storico Complesso Bandistico "Città di

PDF Calabria in Festa Ader Calabriaadercalabria it web wp Incontro Socio Culturale Chivasso 1 pdf PDF Libro PDF Associazione Calabresi Solothurn ACS Solothurn ch acs solothurn ch immagini LibroPDF acs 20soletta pdf PDF Untitled Fincalabra fincalabra it

Calalang v. Williams

COMMENCEMENT - dvcedu

chanrobles PDF JURISPRUDENCE Calalang vs MAXIMO CALALANG, Petitioner, versus G R No 47800 December 2, 1940 A D WILLIAMS, ET AL , Respondents x x D E C I S I O N LAUREL, J Maximo

Calalang vs. Williams [Digested Case]

Financial Accounting By Larson Manual 18th Ws90536 Pdf

chanrobles PDF JURISPRUDENCE Calalang vs MAXIMO CALALANG, Petitioner, versus G R No 47800 December 2, 1940 A D WILLIAMS, ET AL , Respondents x x D E C I S I O N LAUREL, J Maximo

Calamity Jane

LIFE AND ADVENTURES OF CALAMITY JANE BY HERSELF My maiden

beckybuller 2017 09 CALAMITY JANE pdf Calamity Jane You been telling stories Spreading lies of glory Up and down the plains Jane ain't even your name Jane V2) You know he can't stand you He cussed and he damned you Yet you claimed to be his

PDF calamity loan application form Pag IBIG Fund pagibigfund gov ph DLForms SLF066 CalamityLoanApplicationForm V03 pdf PDF Calamity Loan Application Form (CLAF, HQP SLF 066) (Applicable pagibigfund gov ph dlforms Calamity 20Loan

  1. pag ibig calamity loan form 2018
  2. pag ibig calamity loan form 2019
  3. pag ibig calamity loan requirements
  4. pag ibig calamity loan loanable amount
  5. pag ibig calamity loan 2018
  6. pag ibig calamity loan 2019
  7. pagibig calamity loan 2018
  8. calamity loan form sss

CALARASI Scenariul Motivarea

studiu sociologic comun - Keepeu

30 Oct 2018 Inspectoratul Școlar Județean Călărași, ca serviciu public deconcentrat din structura 2017 2018 și „Rolul managerului școlar în misiunea de motivare a Crearea unor scenarii didactice care permit valorificarea  18 Oct 2017 JUDETEAN CĂLĂRAȘI ÎN ANUL ȘCOLAR

  1. ISJ Calarasi
  2. călăraşi starea si calitatea invatamantului an scolar 2013
  3. filiala calarasi
  4. Elaborarea unor scenarii didactice deschise
  5. motivarea elevilor în vederea participării la orele de pregătire suplimentară;
  6. Călăraşi inspector școlar ge
  7. Călăraşi
  8. municipiul Călăraşi
  9. judeţul Călăraşi
  10. Scenariul „Dezvoltare bazată pe sustenabilitate economică şi de mediu”
Home back Next

nthini Adalah Sangat Luas Berkaitan Budaya Jawa Abad Ke16

Description

Cakupan Serat Centhini adalah sangat luas berkaitan budaya Jawa abad ke16-17 ketika kejadian cerita ini berlangsung

Sebagian cerita,

kepercayaan mungkin sudah tidak ada lagi pada masa ini,

tapi sebagian besar masih hidup dikalangan masyarakat Jawa terutama di pedesaan

Tempat-tempat yang dilalui oleh Jayengresmi,

Jayengrana dan Niken Rangcangkapti bisa dijadikan referensi arkeologi karena sebagian besar adalah candi-candi dan peninggalan kerajaan Jawa dimasa lalu

Mungkin candi-candi itu masih ada,

yang pasti gunung-gunung dan desa-desa yang dilewati sebagian besar masih ada sampai saat ini dengan nama yang masih sama

Contohnya ketika Jayengresmi melihat tulang-tulang besar di gunung Phandan ada kemungkinan tulang-tulang besar ini adalah tulang-tulang binatang purba jaman pra-sejarah

Ketika melewati Dandhangngilo (mungkin sekitar Cepu) ada sumber minyak tanah,

kemungkinan tempat ini mengandung sumber minyak mentah

Sedangkan cerita rakyat yang ada di jilid-1 kemungkinan masih hidup sampai saat ini: Cerita ular Jaka Nginglung asal muasal air asin Kuwu,

Cerita Ki Ageng Sela menangkap petir dan papalinya,

Cerita Sri – Sadana asal mula ada padi,

Cerita tokoh-tokoh pewayangan yang ada di wayang purwa

Adat istiadat berkaitan dengan penanggalan Jawa,

perhitungan selamatan orang meninggal dll

pada umumnya saat ini sudah dikompilasi menjadi buku Primbon

Banyak kalangan masyarakat Jawa walaupun sudah beragama Kristen atau Islam masih menggunakanya

Bahkan saat ini ada yang menawarkan jasa perhitungan berdasarkan primbon Jawa untuk hal-hal tertentu melalui sms operator tilpun seluler

Sedangkan adat istiadat yang bersifat khusus seperti pembuatan keris,

dan candrasangkala hanya di pelajari oleh para ahli yang berkecimpung dalam bidang tersebut

Saat ini masih ada empu pembuat keris,

Ahli bangunan pembuatan rumah Joglo

Keduanya sudah ada tehnik dan hitungannya sejak ratusan tahun yang lalu

Candrasangkala adalah sifat-sifat angka 1 s/d 9

Setiap angka bisa dterjemahkan menjadi kata yang tepat sesuai nilai angka tersebut

Biasanya dibuat untuk merangkai kalimat pendek sesuai kejadian tahun tersebut yang perlu diingat oleh pembuat

Contohnya “Paksa suci sabda ji” adalah tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi yaitu saat Serat Centini ditulis

Kemungkinan Serat Centini ini dibuat atas satu (ji – nilainya 1) perintah (sabda – nilainya 7)

secara mendesak (paksa – nilainya 2) dengan maksut baik (suci – nilainya 4)

Untuk bisa membuat Candrasangkala harus menguasai sifat kata-kata sesuai nilainya dari 1 s/d 9,

Saat ini mungkin hanya kalangan kraton yang masih menguasai ilmu ini

Sedangkan pengetahuan sprituil,

banyak kajian-kajian atau buku-buku yang diterbitkan berkaitan dengan ilmu-ilmu spirituil yang dibicarakan dalam setiap jilid Serat Centini,

dikarenakan masyarakat Jawa senang dengan pembahasan tentang “sangkan paraning dumadi” atau “asal-usul kehidupan” dalam bentuk pembicaran tasauf

Banyak juga Serat berupa tembang yang memberi nasehat agar kita menjalani kehidupan yang berbudi luhur

Yang disebut dalam jilid-1 adalah:

Serat Nitisruti adalah karangan Pangeran Karanggayam dari Pajang,

yang selesai ditulis pada tahun 1612

Berisi nasehat agar berbudi luhur dan mengambarkan tingkahlaku yang tergolong nista-madya-utama

Waringin Sunsang adalah cerita simbol asal usul kehidupan dan jalan kematian

Pada saat roh yang berasal dari Allah SWT

turun memberi hidup pada manusia adalah mudah,

tapi waktu mau kembali lagi sulit seperti beringin yang terbalik

Beban perbuatan selama hidup akibat nafsu-nafsu yang mempengaruhi manusia,

menjadi hambatan untuk roh kembali ke akar kehidupan yang mengarah keatas

Kecuali dengan usaha yang tidak kenal lelah fokus pada keseimbangan menuju ke akar kehidupan yaitu pengabdian kepada Allah SWT

Empat cara bertapa atau empat cara tirakat (tarekat/laku/tingkah laku):

- Anarima,

menerima kasih sayang Allah SWT,

menerima apapun yang terjadi sesuai dengan takdir Ilahi

- Geniira,

menghindari diri dari rasa amarah

pandai menyesuaikan diri seperti aliran air

- Ngluwat,

memendam semua hal yang membanggakan diri agar tidak menganggap diriya paling benar

Bersikap andap asor

Langit Sapta (Langit Tujuh) adalah tingkatan roh menuju kesempurnaan: roh jasmani,

Sifat rong puluh atau sifat dua puluh adalah usaha penghayatan akan Dzat,

Asma dan Afngal Allah SWT (kemungkinan besar ini adalah sinkretisasi atau adaptasi dari Asma AlHusna): a

Napsiyah (Dzat): Wujud (Pasti Adanya) b

Salbiyah (Sifat): Kidam (Maha Awal),

Baka (Maha Abadi),

Mukalapah lil kawadis (Maha Luhur),

Wal kiyamu binaphisi (Mengadakan Diri Sendiri),

Wahdaniyat (Maha Esa)

Manganiyah (Asma): Kodrat (Maha Kuasa),

Iradat (Maha Pencipta),

Ngelmu (Maha Pandai),

Kayat (Maha Hidup),

Samak (Maha Tahu),

Basar (Maha Waspada),

Kalam (Maha Wicara),

Maknawiyah (Afngal): Kadiran (Yang Maha Menguasai),

Muridan (Yang Maha Mencipta),

Ngalimun (Yang Maha Menguasai Ilmu),

Kayat (Yang Maha Menghidupi),

Samingun (Yang Maha Mengetahui),

Basiran (Yang Maha Melihat),

Muakalimun (Yang Maha Pembicara)

Kesimpulannya pada abad 16 – 17 di pedalaman Jawa banyak para bijak hidup menyepi yang menguasai berbagai disiplin ilmu sebagai kekayaan beragam budaya baik budaya asli yang berumur sangat tua maupun budaya akibat penyebaran agama Hindu,

Satu sama lain hidup berdampingan tanpa saling mengganggu

Barangkali saat ini juga masih begitu kalau kita berbicara masyarakat di pedesaan yang masih lekat dengan budaya masa lalu dan tidak terlalu bersinggungan dengan pengaruh budaya Barat

Pada jilid-2 ini,

kisah awal perjalanan Mas Cebolang berpusat pada pertemuannya dengan berbagai tokoh dengan berbagai keahlian disekitar istana kerajaan Mataram

Kerajaan pada masa itu adalah poros kekuasaan dan istana adalah tempat berkumpulnya banyak ahli diberbagai bidang pengetahuan yang ada pada saat itu,

baik pengetahuan tentang adat istiadat maupun pengetahuan tentang agama

Mataram pada jaman Sultan Agung adalah kesultanan Islam yang terbesar yang berhasil dibentuk dan mampu menguasai seluruh pulau Jawa

Kesultanan Mataram setelah Sultan Agung mengalami kemunduran sejalan dengan masalah suksesi serta meningkatnya pengaruh Belanda yang jengkal demi jengkal melebarkan pengaruh kolonialnya keseluruh Nusantara

Perkembangan Islam pada saat itu ter-refleksi dengan cerita dan legenda yang diceritakan dalam jilid-2 ini,

disamping cerita wayang yang merupakan cerita asli Jawa dengan pengaruh Hindu,

juga diceritakan berbagai cerita yang berasal dari Timur Tengah yaitu: Permaisuri Raja Bagdad dan perdana mentrinya

Raja Istambul yang hafal Al-Qur’an

Cerita tentang asal muasal bahasa dan huruf tatkala membangun menara Bibel

Ni Kasanah yang berbakti sama suaminya Suhul

Siti Aklimah yang dituduh serong pada jaman Rasul

Nabi Sulaiman mencoba kesetiaan cinta kasih antara Dara Murtasyah dengan Sayid Ngarip

Cerita-cerita dari Timur Tengah tersebut tidak lagi terdengar dikalangan masyarakat Jawa saat ini,

malahan cerita wayang yang masih hidup dikalangan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini

Ini merupakan bukti ada resistensi intervensi budaya Arab di masyarakat Jawa walaupun menerima Islam sebagai agama

Yang menarik adalah cerita Sunan Kalijaga bertemu dengan Yudistira (Puntadewa) raja Amarta

Sunan Kalijaga adalah salah satu Wali Sanga penyebar agama Islam,

sedangkan Yudistira adalah raja Amarta dari kisah Mahabarata (Note: belum ada bukti yang konkrit bahwa Mahabarata adalah kisah berdasarkan fakta sejarah,

pendapat yang berkembang merupakan cerita fiksi)

Diceritakan waktu para wali mau mendirikan mesjid Demak,

membabat hutan diwilayah Glagahwangi

Hutan selalu diselimuti pedut (asap)

Hutan yang ditebang hari ini besoknya sudah kembali lagi menjadi hutan

Jadi pembabatan hutan tidak pernah berhasil

Sunan Giri menyuruh Sunan Kalijaga untuk menyelidiki masuk kedalam hutan

Ternyata didalam hutan ada seorang tinggi besar yang sedang bertapa

Terjadi dialog antara Sunan Kalijaga dengan pertapa tersebut (disebutkan dialog terjadi dalam bahasa Budha – mungkin maksudnya Sangsekerta) diketahui pertapa tersebut adalah Yudistira raja kerajaan Amarta,

disuruh bertapa oleh dewa karena tidak bisa mati-mati disebabkan memagang jimat bernama Kalimasada atau Pustaka-Jamus

Kemudian Sunan Kalijaga meminta untuk melihat jamus tersebut mungkin bisa membantu

Ternyata jamus tersebut selembar kulit yang ada tulisan-nya yang isinya adalah Kalimah Syahadat – adalah kata-kata yang diucapkan kalau seseorang masuk agama Islam

Setelah jamus tersebut bisa dijabarkan oleh Sunan Kalijaga,

Puntadewa ikut membacanya dan bisa menemui ajalnya setelah masuk Islam

Sebelumnya meninggal sempat memberikan gambargambar pada lembaran kulit kerbau yang isinya adalah gambar keluarga dekat Yudistria tokohtokoh yang ada dalam kitab Mahabarata

Gambar-gambar tersebut yang dijadikan dasar Sunan Kalijaga membuat wayang kulit tokohtokoh Mahabarata

Setelah Yudistira wafat,

hutan berhasil dibabat dan Puntodewo dimakamkan disitu (makam Glagaharum) yang sampai sekarang masih ada dilingkungan mesjid Agung Demak

Apakah cerita ini benar

? Atau hanya akal-akalan dari Sunan Kalijaga untuk meng-Islamkan masyarakat Jawa yang pada saat itu masih beragama Hindu

? Masuk Islam tapi masih diperbolehkan melestarikan wayang kulit yang digemari masyarakat Jawa padahal ceritanya berasal dari agama Hindu

Wallahualam

! Sedangkan adat istiadat yang yang dibicarakan dalam jilid-2 banyak sekali berkaitan dengan pengantin,

pernikahan dan hubungan suami-istri

Juga dibicarakan tentang keris,

Kesemuanya masih lestari sampai saat ini

Perihal budaya keris beberapa tahun yang lalu terbit Ensiklopedia Keris yang menceritakan hal-

ihlwal keris sangat detail (Penyusun: Bambang Harsrinuksmo,

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama,

Begitu juga ada Ensiklopedia Wayang Purwo berisi hal-ihwal tokoh-tokoh yang ada di pewayangan (Terbitan Balai Pustaka tahun 1991)

Budaya ruwatan (Murwakala) juga masih hidup sampai saat ini terutama di pedesaan apabila punya anak: ontang-anting (anak tunggal: laki-laki atau perempuan),

uger-uger lawang (dua anak laki-laki),

kembang sepasang (dua anak perembuan),

dhana-gedhini (satu anak laki-laki dan satu anak perempuan,

gedhini-gedhana (satu anak laki-laki dan satu anak perempuan,

pandhawa (lima anak laki-laki semua),

ngayoni (lima anak perempuan semua),

madangake (anak lima: empat laki-laki,

apil-apil (anak lima: empat perempuan,

Pengetahuan Spirituil pada jilid-2 di-dominasi pengetahuan tentang agama Islam

Beberapa yang dibicarakan pada jilid-2: 1

Penjelasan tentang turunnya Lailatul-kadar

Berisi perkiraan kemungkinan hari-hari Lailatulkadar akan turun

Lailatul-kadar adalah salah satu hari seminggu terakhir puasa Ramadhan,

terjadi suatu pengalaman spiritual turunnya rahmat Allah SWT bagi yang bisa mengalaminya

Kisah Nabi Kidhir dan Nabi Musa

Hanya dijelaskan sekilas bukan seperti yang ada di AlQur’an Surat Al-Kahfi ayat 66 s/d 82

Pahala orang yang hafal Al-Qur’an apalagi kalau mengerti artinya

Dalam bentuk contoh cerita Raja Istambul

Penjelasan tentang puasa sunah: Puasa sunah adalah puasa yang dianjurkan yang bukan puasa wajib bulan Ramadhan

Yang masih dianjurkan sampai saat ini: Senin dan Kamis,

Puasa Sawal: tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri,

Puasa Besar: dua hari sebelum hari Raya Idul Adha

Serat Centhini Jilid-3 berisi 82 pupuh dari pupuh 175 s/d 256,

masih meneruskan perjalanan Mas Cebolang yang diikuti empat santri: Palakarti,

Kartipala,

Saloka,

Nurwiti

Mas Cebolang adalah anak Seh Akadiyat dari Sokayasa,

Banyumas

Seh Akadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti

Rute perjalanan: masih di ibukota Mataram ketemu: Ki Cendhanilaras berbicara soal pasugihan (ilmu hitam menjadi kaya),

Tumenggung Sujanapura diberi wejangan Sastra Jendra Hayuningrat,

Ki Ajar Sutikna berbicara hari baik untuk beberapa keperluan,

bersama-sama Ki Ajar Kepurun meninggalkan ibukota Mataram bermalam di desa Kepurun berbicara tentang hal-ihwal wanita,

ketemu Lurah Harsana lihat candi Prambanan,

Candi Sewu,

Candi Roro Jonggrang dan bercerita legenda berkenaan dengan candi tersebut,

sampai di desa Kajoran ketemu Ki Ngabdulmartaka bercerita tentang Serat Suluk Hartati,

diajak oleh Ki Ngabdulmartaka ketemu Panembahan Rama bercerita tentang ilmu kasunyatan tentang asal usul kehidupan,

liwat hutan nginep di planggrongan (rumah diatas pohon kayu) kepunyaan Ki Wreksadikara berbicara soal kayu dan rumah,

desa Tembayat ketemu Modin Ki Sahabodin bercerita tentang Sunan Gede Pandhanaran dan Seh Domba,

Panaraga ketemu Ki Wanakara berbicara tentang jamu untuk berbagai penyakit dan ura-ura (lagu) sifat-sifat manusia yang kurang baik,

Pajang ketemu Ki Mastuti bercerita silsilah raja Pajang s/d Sultan Agung di Mataram,

diantar oleh Ki Mastuti ke makam Laweyan,

di mesjid Laweyan ketemu Ki Ngabdul Antyanta dan Ki Sali bercerita tentang ramalan Jayabaya

Sedangkan cerita/legenda,

ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut diatas adalah: Cerita/Legenda: Ki Harda yang cari pesugihan (ilmu hitam cari kekayaan) di hutan Roban

Serat Lokapala serita asal usul Rahwana (Ramayana)

Cerita penyebaran agama Islam di Jawa dari masa Sunan Ngampel s/d Sultan Agung

Cerita Prabu Dewanata di Pengging

Cerita Prabu Dipanata di Salembi melawan Prabu Karungkala di Prambanan,

Cerita Bandung Bandawasa asal mula Candi Sewu dan Candi Roro Jonggrang

Cerita Ke Gedhe Pandanaran dan Seh Domba

Silsilah Sultan Pajang s/d Sultan Agung di Mataram

Cerita tentang Ramalan Jayabaya

Adat Istiadat: Sifat-sifat dalam penangalan Jawa dan perhitungan baik buruknya perjodohan

pemilihan jodoh berdasarkan bibit,

tanda-tanda baik buruknya sifat wanita,

delapan hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan pekerjaan

sebelas macam kayu dan masing-masing manfaatnya

berbagai jenis rumah Joglo 7 macam,

Limasan 10 macam,

Kampung 9 macam,

Mesjid 3 macam

empat puluh empat macam gendhing terbangan

penjelasan makna selamatan orang meninggal dari 3 hari s/d 1000 hari

sifat-sifat wanita dilihat dari hari lahir pada penanggalan Jawa

jamu untuk macam-macam penyakit

ura-ura (lagu) tentang sifat-sifat manusia yang kurang baik

Pengetahuan Spirituil/Agama: Perihal unsur kehidupan api,

Sastra Jendra Hadiningrat

Serat Suluk Hartati

Berbagai ilmu Kasunyatan tentang asal usul kehidupan

Pancadriya dan Pancamaya

Penjelasan tentang fasik,

Serat Centhini Jilid-4 berisi lanjutan perjalanan Mas Cebolang

Dalam jilid ini juga berisi suatu sisi lain dari budaya masyarakat pedesaan / masyarakat traditional yang sangat longgar dari segi hubungan seksual diluar pernikahan maupun toleransi masyarakat terhadap penyimpangan seksual pada suatu kelompok masyarakat tertentu

Toleransi ini masih berlajut sampai saat ini di daerah-daerah tertentu di Jawa

Secara umum masyarakat Indonesia saat ini juga sangat bertoleransi pada perilaku seks diluar pernikahan maupun penyimpangan seks lainnya walaupun telah ada usaha-usaha dari kelompok agamis yang berusaha memasukkan kaidah-kaidah agama agar perilaku seks hanya dilakukan dalam bentuk pernikahan secara formal

Justru letak kekuatan dari karya besar seperti Serat Centhini ini adalah merekam berbagai budaya,

adat-istiadat maupun pengetahuan sprirituil yang hidup dalam masyarakat,

tanpa melakukan suatu penilaian dari segi etika dilihat dari sudut pandang tertentu ataupun melakukan penyaringan hanya pada hal-hal yang sekiranya baik sesuai dengan pandangan nilai etika tertentu

Serat Centhini merekam semua hal yang memang hidup dan nyata pada masyarakat Jawa abad ke 16-17 tanpa dikurangi sedikitpun sebagai suatu warisan budaya yang sangat beragam dan sangat kaya akan nilai-nilai dari sisi yang manusiawi dalam kehidupan

Justru kebanyakan dari kita yang mencoba menilai suatu karya dengan perbandingan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam “frame of reference” diri kita sendiri yang tidak selamanya benar secara hakiki

Cerita/legenda dengan nuansa lokal adalah:

Lanjutan ramalan Jayabaya tentang akan datangnya jaman Kalabendu yang ilustrasinya diambil dari cuplikan Serat Kalathida karya R

Ranggwarsita yaitu suatu peringatan akan mengalami jaman edan,

kalau tidak ikut edan tidak kebagian dan tidak tahan,

tapi sebetulnya masih untung yang tetap ingat dan waspada (tidak ikut-ikutan edan)

Cerita Jokobodho murid Sunan Tembayat,

cerita Jaka Tingkir raja Pajang,

cerita Ki Buyut Banyubiru murid Sunan Kalijaga,

Serat Rama

cerita tiga batu yang berkhasiat,

cerita sifat tokoh-tokoh pewayangan dari Mahabarata

Cerita yang bernuansa Islam: cerita tanda-tanda kiamat yang dambil dari Hadist penuturan Aisyah r

salah satu istri Nabi Muhammad s

cerita Seh Markaban dari Mesir,

cerita Sultan Abdulkarim Kubra,

cerita Prabu Nursirwan yang sangat adil,

cerita orang Arab bernama Katim Tayi yang sangat pemurah

Cerita tentang adat-istiadat adalah: Serat Waduaji yang berisi nama-nama punggawa (pegawai) dan prajurit kerajaan beserta kewajiban masing-masing

sedangkan yang lainnya sangat dominan menceritakan petualangan seks bebas Mas Cebolang pada saat menyamar sebagai pesinden wanita maupun pada saat jadi sinden kentrung serta cerita ketika berada dilingkungan para warok dan gemblakannya

Note: Sampai saat ini masih ada kebiasaan di Jawa Timur para laki-laki yang berpakaian wanita bekerja sebagai sinden (penyanyi lagu traditional) ataupun pada kesenian ludruk

Pengetahuan Spirituil/Agama: 1

Antara Tasauf dan Fikih

Sampai saat ini difinisi Tasauf dan Fikih masing diperbincangkan dikalangan ulama-ulama Islam dan tidak ada difinisi final perihal hal ini

Di Serat Centhini jilid-4 ini ada diskusi antara Mas Cebolang dengan Endrasmara yang mencoba mendifinisikan istilah Tasauf dan Fikih,

Pengertian Tasauf (dalam tembang Balabak) : i

Cebolang ngling nitik saking ing surasa,

manungseku tartamtu ing Pangeran,

piyambak-piyambak lalampahe neng donya,

Myang sangsara begja cilaka waluya,

sugih miskin ngagesang tanapi laya,

pamikir kajawi mung lumaksana,

Artinya hidup hanya sekedar melaksanakan secara ikhlas apa adanya seperti yang sudah dikodratkan oleh Allah SWT

Pengertian Fikih (dalam tembang Balabak): i

Kang kasebut ing kitab Palakil-kobra,

kang kaenas ing kitab Pekih punika,

kangge Jawi mufakat lampahing gesang,

Dadosipun,

punapa kang kalimrah kanggo manungsa,

inggih linampahan sacara-caranya,

Artinya dalam menjalani kehidupan dengan cara yang umum berlaku sesuai dengan tatacara dan kewajiban yang sudah digariskan (note: oleh agama)

Khasiat dari Asma’ulhusna

Dzikir dengan mengucapkan nama-nama Allah SWT yang 99 diuraikan sesuai dengan manfaatnya

Untuk bisa terlaksana diperlukan suatu keimanan yang sangat kuat

Berkaitan dengan agama Budha: a

Tingkatan Siswa di Agama Budha: Upasaka,

Sangha,

masing-masing tingkat berbeda yang didalami

Karma: sebab akibat karena perbuatan manusia yang mengakibatkan manusia tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan,

tujuan agama Budha adalah mengilangkan karma kehidupan untuk mencapai kesempurnaan menuju nirwana (tidak dilahirkan kembali akibat karma kehidupan)

Ilmu dan Laku (dalam tembang Pangkur): i

Matur malih Mas Cebolang,

ing Kabudan paran kang sami ngelmi,

Ilmu dan Laku adalah pasangan bagaikan ikan dan bumbunya keduanya harus dipelajari lalu dilaksanakan

Cerita Dewa Ruci: Adalah cerita pewayangan ketika Werkudara (penengah Pandawa) disuruh gurunya Pendita Durna mencari “air kehidupan” yang berada di tengah lautan

Setelah melalui berbagai rintangan akhirnya ketemu dengan seseorang yang mirip dirinya tapi jauh lebih kecil yang bernama Dewa Ruci

Dewa Ruci menyuruh Werkudara masuk dalam tubuhnya melalui telinga,

tentunya Wrekudara tidak percaya bisa masuk dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga sedangkan badan Dewa Ruci saja jauh lebih kecil darinya (perlambang bahwa pada pengalaman dunia sprirituil terjadi suatu relatifitas ruang dan waktu)

Ketika didalam tubuh Dewa Ruci ini Werkudara mengalami berbagai pengalaman spiritual yang berupa simbolik warna yang diuraikan oleh Dewa Ruci jalan menuju kesempurnaan hidup yang di Jawa umum disebut manunggaling kawula gusti

Pada Serat Centhini Jilid-5 ini ada pengantar pembukaan dari R

Ranggawarsita pujangga Jawa abad ke-18

Atas perintah Raja Surakarta Pakubuwana VII disalin petikan Serat Centhini jilid 5 s/d 9 disebut Serat Centhini Pisungsung untuk dihadiahkan kepada raja Belanda yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden di Negeri Belanda

Pengantar pembukaan berisi ringkasan singkat Serat Centhini Jilid 1 s/d 4

Kenapa hanya disalin jilid 5 s/d 9,

tidak ada yang tahu alasannya,

sedangkan aslinya berjumlah 12 jilid

Pada awalnya,

cerita masih berkisar petualangan seks Mas Cebolang di kediaman Bupati Wirasaba pada saat menjadi sinden kentrung (ronggeng)

Bupati Wirasaba tertarik dengan santri Nurwitri yang diminta untuk berpakaian wanita

Mas Cebolang juga berpakaian wanita

Mengambil kesempatan menginap di kadipaten,

melakukan petualangan seks dengan selir Bupati Wirasaba yang bernama Jae Manis,

akhirnya ketahuan dan melarikan diri waktu mau ditangkap

Petualangan seks sinden ronggeng ini sekali lagi diceritakan pada akhir buku yaitu pada saat perayaan pernikahan antara Jayengresmi dan Niken Tambangraras

Ini adalah salah satu hal yang kontradiktif dalam Serat Centhini

Disatu sisi Mas Cebolang serta empat santri melakukan perjalanan yang di Jawa dikenal sebagai “lelanabrata” atau perjalanan dalam rangka memperdalam ilmu sprituil

Disisi lain juga melakukan hal yang dilarang agama yaitu melakukan petualangan seks bebas

Kemungkinan besar ada dua hal yang jadi penyebab hal ini diceritakan dalam Serat Centhini,

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan manusia pada umumnya yaitu sisi terang dan sisi gelap

Sisi terang adalah pengaruh sisi baik dari pencarian akan nilai-nilai luhur spirituil dalam kehidupan

Sisi gelap adalah suatau kenyataan adanya pengaruh nafsu-nafsu dalam diri manusia yang tidak mudah dikendalikan

Peperangan dalam memilih jalan hidup adalah peperangan sepanjang waktu kehidupan manusia

Setiap orang punya pilihan jalan hidup berbeda tergantung mana yang lebih dominan dari dua sisi kehidupan tersebut

Didunia pewayangan ada tokoh idola yang bernama Arjuna yang disebut “lelananging jagad” atau lelaki dunia

Untuk membuktikannya sebagai “lelananging jagad” seseorang disamping mahir dalam tapabrata

atau hal-hal yang bersifat spiritual juga bisa menaklukkan hati banyak wanita

Pada saat ini,

walau tidak banyak tapi ada orang-orang di masyarakat Jawa/Indonesia yang melakukan hal ini

Bisa dalam bentuk punya banyak wanita simpanan tanpa nikah (atau nikah siri) maupun dalam bentuk punya istri lebih dari satu

Dalam jilid-5 ini sebagian besar pengetahuan spiritual berkenaan dengan agama Islam

Hal ini disebabkan karena kisah perjalanan anak-anak Sunan Giri pada jilid ini berhubungan dengan ulama besar pada jaman itu yang masing-masing mewakili ulama di Jawa: 1

Jawa Barat yaitu Ki Ageng Karang di gunung Karang,

Pandeglang,

Banten sebagai guru sekaligus ayah angkat Jayengresmi

Jawa Tengah yaitu Seh Ahkadiyat di Sokayasa,

Banyumas sebagai ayah dari Mas Cebolang serta guru sekaligus ayah angkat Jayengrana dan Rangcangkapti

Jawa Timur yaitu Ki Bayi Panurta di Wanamarta,

Mojokerto sebagai guru serta ayah mertua Jayengresmi

Adat Istiadat yang diceritakan hanya perihal keutamaan wanita dalam pernikahan yaitu nasehat dari Ki Bayi Panurta kepada anaknya Niken Tambangraras,

yaitu ada enam sikap wanita terhadap suami: Dhingin wedi kapindone asih,

kaping telu sumurup ing karsa,

Artinya terhadap suami istri harus takut,

Note: kemungkinan besar hal ini sudah tidak berlaku lagi sebagai sikap istri jaman sekarang terhadap suaminya,

Pengetahuan Spirituil/Agama: 1

Mukmin linuhung (dalam tembang Gambuh): a

Mukmin ingkang linuhung,

ingkang tan pegat sembayangipun,

dene padhangeing tyas kang arsa matitis,

Artinya mukmin linuhung adalah yang tidak pernah meninggalkan solat,

kehendak hatinya terang dan tepat serta bisa mematikan nafsu duniawi

Tempatnya Hyang Agung ada di Gedung Retna Adiluhung suatu perlambang,

gedung adiluhung adalah tempat untuk menyimpan,

sedangkan kehendak dari Hyang Maha Suci dinamakan retna atau perhiasan yang sangat berharga,

jadi artinya adalah perhiasannya bumi atau

bunganya dunia yaitu seseorang yang mendapat anugerah dikasihi oleh Allah SWT

Tingkatan pendalaman agama dalam tasauf melalui empat jenjang: a

Syariat: menjalankan syarat-syarat yang diwajibkan agama

Tarekat: tirakat atau laku untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga selalu bertingkah laku baik atau berbudi luhur

Hakekat: mencari akar atau asal-usul kejadian sehingga mengerti hakekat suatu keadaan atau kejadian melalui pemikiran dan pemahaman yang mendalam dalam rangka menebalkan keimanan terhadap kekuasaan Allah SWT

Makrifat: menyelami keagungan dan keajaiban Allah SWT yang di Jawa sering disebut suatu pengalaman sprirituil manunggaling kawula gusti

Curiga manjing rangka,

rangka manjing curiga artinya keris masuk kerangkanya,

Ini adalah perlambang sukma (roh) masuk kedalam badan dan badan masuk kedalam sukma (roh) adalah suatu keadaan antara roh dan badan tidak ada perbedaannya

Dengan melalui cara tertentu keadaan ini bisa terjadi

Pada keadaan yang umum roh itu hanya sekedar memberi hidup pada badan,

tapi badan tidak bisa mengontrol keadaan roh

Umpamanya pada saat tidur roh bisa keluar dari tubuh kita,

entah pergi kemana dan kembali lagi,

tanpa bisa kita kontrol dengan sadar

Karena harus ada usaha untuk menyatukan roh dan badan menjadi satu kesatuan yang utuh,

Kalau menurut di buku ini caranya dengan menekuni solat secara khusuk

Ada beberapa catatan yang bisa kita ambil dari membaca Serat Centhini Jilid-6 yang satu jilid penuh hanya menceritakan pernikahan antara Jayengresmi yang sudah berganti nama Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras anak dari Ki Bayi Panurta dari Wanamarta,

Mojokerta

Cerita dalam jilid-6 ini menyiratkan adanya pergeseran nilai-nilai dalam penyebaran agama Islam di Jawa dibandingkan dengan pada saat awal kedatangannya abad ke-14 yang dimotori oleh wali sanga

Pergeseran ini yang direkam sangat baik oleh Serat Centhini dengan dijatuhkannya Sunan Giri oleh Sultan Agung yang mengakibatkan ada dualisme perkembangan budaya di Jawa yaitu perkembangan budaya yang dimotori oleh pesantren-pesantren dan budaya yang dimotori oleh kerajaan dengan wilayah pengaruh masing-masing

Disamping itu ada juga wilayah-wilayah yang tetap mempertahankan budaya lokal tanpa bisa dipengaruhi baik oleh budaya pesantren maupun oleh budaya kerajaan

Barangkali juga,

saat itu dimulainya adanya ketegangan antara otoritas pemerintahan yang

dimotori oleh kerajaan dan otoritas agama yang dimotori oleh pesantren-pesantren yang dalam beberapa dekade sejak saat itu berjalan sendiri-sendiri tidak ada ikatan satu dengan yang lain

Walaupun tidak setajam masa-masa yang lalu ketegangan ini kadang-kadang masih bisa dirasakan dan secara sporadis muncul kepermukaan sampai dengan saat ini

Pergeseran-pergeseran yang terlihat adalah: 1

Pada masa kesultanan Demak dan Pajang hubungan antara kerajaan dan ulama Islam boleh dikatakan menyatu karena setiap ada hal-hal penting untuk diputuskan,

raja-raja di Demak dan Pajang selalu konsultasi dengan Sunan Giri yang juga dianggap guru oleh mereka

Bahkan raja di Demak dan Pajang baru dikatakan resmi kalau sudah mendapat restu dari Sunan Giri

Pada awal kesultanan Mataram,

raja-rajanya juga sangat taat terhadap nasehat dari Sunan Kalijaga

Sultan Agung dari Mataram yang punya ide yang berlainan dari pendahulunya yang tidak mau ada dua raja di tanah Jawa

Satu adalah dirinya dan satunya lagi Sunan Giri Parapen di Giri

Ini adalah awal kerajaan tidak mau tunduk pada otoritas agama bahkan raja memproklamirkan dirinya disamping sebagai panglima tertinggi angkatan perangnya (Adipati Ing Ngalaga) sekaligus peñata agama (Khafitulah Panatagama) adalah suatu pernyataan bahwa ulama harus tunduk kepada aturan kerajaan

Ini adalah formalnya,

realitasnya pesantren-pesantren menjaga independensi mereka dalam membangun budaya pesantren yang tidak secara frontal melawan kerajaan tapi dilain sisi tidak terlalu patuh dengan kerajaan

Karena itu,

ada adat-istiadat pernikahan model pesantren berbeda dengan adat-istiadat pernikahan model kerajaan walaupun ada juga sedikit kesamaannya

Yang jelas pakaian yang dikenakan baik pengantin laki-laki,

orang tua pengantin maupun pengiringnya sangat berbeda dengan pakaian pengantin dari adat-istiadat kerajaan

Begitu juga akad nikah yang tidak perlu dihadiri pengantin wanita hanya ada didaerah yang pengaruh pesantren sangat kuat

Adat istiadat pengantin model kerajaan dijelaskan pada Serat Centini Jilid-2

Saji-sajian mulai dihilangkan pada adat-istadat pernikahan model pesantren sedangkan pada model kerajaan sampai dengan saat ini masih ada walaupun tidak sebanyak pada masa-masa yang lalu

Ini ditandai dengan permintaan Seh Amongraga agar ibu pengantin wanita Ni Mintrasih membuang semua saji-sajian

Pesantren-pesantren pada umumnya terpengaruh dengan budaya Arab,

sedangkan kerajaan mempertahankan tradisi budaya Jawa yang telah berumur ribuan tahun yang diturunkan dari budaya kerajaan yang telah ada sebelumnya baik pada masa Jawa

pengaruh agama Hindu dan Budha atau lebih dikenal sebagai budaya sinkretik

Budaya kenduri kelihatannya masih dipertahankan pada saat penikahan Seh Amongraga yang sebetulnya dalam budaya Islam tidak dikenal,

ini salah satu indikasi juga bahwa ada penyaringan terhadap budaya Arab yang bisa diterima dan ada keinginan juga dari kalangan pesantren untuk mempertahankan budaya lokal

Gamelan dan gending Jawa masih dipakai dalam perayaan pernikahan dikalangan pesantren,

walaupun dikombinasi dengan terbangan (gendang)

Bisa disimpulkan bahwa kadar pengaruh budaya Arab bersamaan dengan penyebaran agama Islam lebih terasa di kalangan pesantren-pesantren dibandingkan dengan kalangan kerajaan (dengan masing-masing wilayah pengaruhnya) walaupun dalam banyak hal kalangan pesantrenpun masih tetap mempertahankan pengaruh budaya lokal yang dianggap tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama

Sedangkan adat istiadat dan ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-6 yang perlu dikemukakan adalah: 1

Ki Buyut Wanahita menjelaskan daging binatang yang sebaiknya tidak dimakan dan beberapa yang mengandung khasiat yang lebih merupakan mitos

Penjelasan adanya berbagai tembang: Kakawin,

Tengahan dan Macapat

Penanggalan Jawa mengikuti penanggalan bulan seperti penanggalan Islam

Setiap minggu ada tambahan yang diberi nama Wuku yang berulang setelah 30 minggu disamping ada pasaran yang berulang setiap lima hari (Pahing,

Kliwon,

Juga ada kalender musim atau pranatamangsa sebagai petunjuk petani terhadap pergantian 12 musim dalam setahun yang dikenal dengan Kasa s/d Sadha

Sejatinya sahadat,

Dalam buku ini disebutkan bahwa kewajiban suami membimbing ilmu agama terhadap istri

walaupun untuk halhal yang mungkin sudah diketahui oleh istri

(Note: saat ini sudah jarang dilakukan setelah selesai pernikahan suami mengajari ilmu agama kepada istri,

pertama belum tentu suami menguasai ilmu agama yang kedua kalau toh tahu belum tentu istri mau mendengarkan kalau diajari)

Wirid syariat,

Wirid adalah mantera yang diucapkan yang dipercaya bisa memperteguh tahapan-tahapan ilmu tasauf yang sedang dipahami

Pada Serat Centhini jilid-7,

awalnya masih melanjutkan sedikit tentang tradisi budaya pesantren,

sedangkan sisanya perihal pola pendalaman ilmu agama atau spiritual yang umum berlaku pada saat itu

Ada beberapa kontradiksi pada Serat Centini jilid-7 ini,

dikarenakan sejak abad ke-16 ketika cerita ini berlangsung telah terjadi pengaruh budaya luar lainnya,

Pola penyiaran agama Islam yang datang kemudian lebih menekankan kepada syariat atau syarat-syarat menjalankan kewajiban agama dimana tidak terhindarkan adanya pengaruh berbagai mazab-mazab dalam Islam

Sedangkan pola yang diajarkan oleh para walisanga adalah pengetahuan spiritual yang menekankan ilmu tasauf yaitu hakekat dan makrifat yang tidak jauh berbeda dengan pola pendalaman sprirituil masyarakat Jawa pada saat itu yang sudah dijalani berabad-abad lamanya dengan satu dan lain cara

Oleh karena itu masyarakat Jawa bisa menerima agama Islam pada saat itu karena pendekatan yang tepat dari wali sanga

Pengaruh budaya Barat telah merubah paradigma pengertian tentang ilmu yang sama sekali berbeda dengan pengertian ilmu yang ada di budaya Jawa pada abad ke-16

Ilmu dalam budaya Jawa adalah pendalaman kehidupan spiritual,

sedangkan di budaya Barat ilmu adalah pengetahuan alam dalam rangka explorasi alam untuk kepentingan duniawi

Bahkan kita bisa pertanyakan apakah ada pendalaman spiritual dalam budaya Barat

? Apakah pengaruh yang terjadi adalah suatu kemunduran atau suatu kemajuan

? Kita serahkan saja penilaian pada diri kita masing-masing dengan melihat kecenderungan saat ini bahwa syariat agama hanya dijalankan sebagai rutinitas ritual tanpa pendalaman spiritual yang menyebabkan kemunduran etika dan moral dalam masyarakat

Kontradiksi yang terdapat dalam Serat Centhini jilid-7 ini adalah: 1

Seh Amongraga meninggalkan Niken Tambangraras setelah menikah selama 40 hari

Adalah perlambang bahwa pendalaman sprituil lebih penting dari segalanya termasuk dalam membina keluarga

Sangat kontradiktif dengan nilai-nilai yang berlaku saat ini

Seh Amongraga sudah berguru di padepokan (pesantren) tiga kali,

dengan Kyai Ageng Karang di Banten,

dengan Ki Bayi Panurta di Wanamarta

Tapi ilmu yang didapat dianggap tidak cukup untuk memahami keagungan Allah SWT oleh karena itu diperlukan laku (tarekat atau tirakat) dengan cara lelanabrata ketempat-tempat sepi dan angker dalam rangka pemahaman segi-segi yang ajaib (gaib) tentang kehidupan termasuk keberadaan mahluk halus

Ini adalah pola pemahaman sprirituil di budaya Jawa yang berumur sangat tua

Bisa diartikan sebagai bentuk sinkretisasi agama Islam,

tapi juga bisa diartikan bahwa pada tataran hakekat dan makrifat agama apapun punya tujuan yang sama yaitu mengagungkan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Ini yang dijadikan dasar adanya sila Ketuhanan Yang Maha

Esa di ideologi Pancasila)

Pola tersebut diatas kontradiktif dengan pola yang berlaku saat ini dimana pelajaran di pesantren adalah besifat final

Kalau sudah tamat,

yang harus dilakukan adalah berdakwah dengan apa yang telah dipelajari di pesantren tersebut baik dengan cara dakwah berkeliling ataupun dengan cara mendirikan pesantrennya sendiri

Sudah sangat jarang santri yang melakukan lelanabrata untuk pemahaman sprituil yang lebih mendalam dalam menyelami keagungan Allah SWT

Kalau dilakukan malahan dianggap menyimpang dari ajaran agama yang sudah baku

Sebagai hasilnya adalah masyarakat Indonesia saat ini yang mayoritas beragama Islam,

tanpa disertai perilaku etika dan moral yang terpuji

Bukan agamanya yang salah tapi pola pemahamannya yang mengalami banyak distorsi

Sedangkan cerita/legenda adat istiadat dan ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-7 adalah: Cerita/Legenda: asal usul gua Sraboja yang dulunya adalah istana kerajaan

Adat Istiadat: pembicaraan tentang Wuku

Kesemuanya saat ada di buku-buku Primbon

Pengetahuan Spirituil/Agama sangat fokus kepada ilmu tasauf,

Hakekat doa puji-pujian (dalam tembang Dandanggula): Wruhana sajatining puji,

dudu lapal kang muni ing lesan,

pan iya karepira kang suci sumunu,

ingkang datan kajeg-kajeg iku jayi,

Artinya: Bukan sekedar keindahan kata-kata yang diucapkan,

hakekatnya adalah keinginan dan kehendak hati yang suci yang harus dilakukan terus menerus tanpa henti

Riba: riba badan: meniru perbuatan orang kapir,

riba ucapan: banyak melakukan hal-hal yang haram dan makruh,

riba hati: berbohong dan tidak menepati janji

Pengamalan ilmu tasauf: a

Syariat – pengamalan keimanan dengan cara mengabdi pada Allah SWT

Tarekat – pengamalan keimanan dengan cara memuliakan Allah SWT

Hakekat – pengamalan keimanan dengan cara pemusatan pada Allah SWT

Makrifat – pengamalan keimanan dengan cara pemahaman keajaiban Allah SWT

Daim (kekekalan,

selalu) sikap terhadap Allah SWT: fardlu daim – selalu ingat

niat daim – selalu mengasihi

sahadat daim – selalu mengagungkan

ilmu daim – selalu memaklumi,

sholat daim – selalu mendekat,

makrifat daim – selalu mendengarkan,

taukhid daim – selalu percaya,

iman daim – selalu menghadap,

junun daim – selalu memuliakan,

sekarat daim – selalu menerima apapun keadaannya,

mati daim – selalu mensyukuri nikmat

Rukun Islam: sahadat,

Kewajiban dunia: berbuat baik bagi sesamanya,

Kewajiban akhirat: mempelajari ilmu syariat-tarekat-hakekat-makrifat,

memandikan dan menyalatkan mayat,

Empat hal yang merusak kesempurnaan hidup: kibir (sombong),

tidak percaya dalil atau berbantahan (tentang hukum agama),

membuka rahasia (tidak bisa dipercaya),

berbohong (tidak mengatakan yang sebenarnya)

Pada Serat Centhini jilid-8,

lebih banyak cerita tentang perjalanan Seh Amongraga di wilayah Jawa Timur,

perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah,

sampai ke Jawa Tengah di wilayah timur dan tenggara dari kota Yogyakarta (ibukota kerajaan Mataram saat itu)

Penulis mencoba mencocokkan nama-nama tempat di gunung Lawu yang disebutkan di Serat Centhini Jilid

ternyata persis sama dengan tempat-tempat yang ada dalam peta terkini petunjuk pendakian gunung Lawu (www

Bisa disimpulkan bahwa para penulis Serat Centhini punya pengetahuan rinci tentang geography pulau Jawa,

kemungkinan besar dengan menggunakan data-data geography wilayah pulau Jawa dari perpustakaan istana

Semua tempat yang disebutkan di Serat Centhini bukanlah tempat yang fiktif tapi memang nyata-nyata ada

Kesultanan Mataram menguasai keseluruhan pulau Jawa pada abad ke-16,

kemungkinan besar data wilayah geohraphy Pulau Jawa ada di perpustakaan istana

Ada beberapa hal yang menyebabkan lelanabrata menjadi begitu sentral di Serat Centhini Jilid-8 ini,

Umumnya pelajaran spirituil keagamaan di Jawa bernafaskan ilmu tasauf dengan konsep pendalaman spirituil mengikuti pola urutan: syariat,

Syariat adalah step awal dari pendalaman spirituil agama dengan menjalankan syarat-syarat yang diwajibkan agama ataupun hukum agama

Langkah ke 2 adalah pendalaman melalui tarekat

Tarekat itu sendiri bisa berarti laku atau tirakat tapi juga bisa berarti tingkah laku atau budi pekerti,

Suatu usaha untuk pengendalian hawa nafsu agar bisa punya budi pekerti yang terpuji

Dimaksud agar pendalaman agama tidak terhenti pada syariat rutinitas ritual,

tapi berlanjut pada tingkah laku atau budi pekerti yang terpuji

Di Jawa pada umumnya mengartikan tarekat ini sebagai laku atau tirakat suatu langkah sangat penting yang harus dilakukan untuk bisa mencapai tingkatan sprituil hakekat dan makrifat

Puasa wajib Ramadhan maupun puasa sunah (seperti puasa Senin dan Kamis) adalah salah satu bentuk tarekat untuk mengendalikan hawa nafsu agar punya budi keperti yang terpuji

Lelanabrata adalah salah satu bentuk tarekat atau tirakat dengan tujuan: i

Pembuktian terhadap penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT

Melakukan lelanabrata naik turun gunung hanya dengan modal tekad dan penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah SWT

Sangat besar kemungkinan saat melakukan lelanabrata akan mengalami banyak mujijat kekuasaan Allah SWT

Pembuktian terhadap kebesaran Allah SWT dengan mendekatkan diri kepada alam

Suasana gua,

hutan dan gunung adalah suasana yang berbeda dengan keadaan keseharian kita

Dalam suasana alam seperti di gua,

lebih bisa merasakan keagungan Allah SWT

Pembuktian adanya alam gaib

Allah SWT itu sendiri adalah sesuai yang gaib dan ajaib

Dengan tirakat ditempat yang dianggap angker,

bisa menyelami alam gaib yang memang ada

Manusia sebagai makhluk Allah SWT yang paling sempurna atas ijin Allah SWT mampu menguasai keberadaan mahluk halus

Pembuktian keberadaan Allah SWT ataupun mendapatkan petunjuk dari Allah SWT

Dengan melakukan lelanabrata mengharapkan adanya suatu bentuk petunjuk atau pengalaman sprirituil pertemuan dengan Allah SWT atau makrifat

Pada bagian perjalanan Jayengwesthi (yang sudah diganti namanya menggunakan nama lama dari Seh Amongraga,

Jayengresmi),

Jayengraga,

Kulawirya dan Nuripin adalah sisi lain dari kehidupan berkenaan dengan maksiat: 1

Menjadi santri tidak otomatis terlepas dari perilaku maksiat yang berkenaan dengan perilaku seks bebas seperti perilaku Jayengraga dan Kulawirya

Kehidupan tetabuhan,

sinden dan tledek (penari tayub) bisa mengarah pada perilaku a susila

Orangtua di Jawa jaman dulu biasanya tidak mengizinkan anaknya menjadi penyanyi atau penari karena khawatir mengalami kehidupan seperti sinden dan tledek yang berkonotasi negatif

Cerita tentang Randha Sembada adalah suatu ilustrasi bahwa keinginan seks yang berlebihan tidak hanya milik laki-laki

Bahkan diceritakan ada perilaku menggunakan penggalak atau

adanya wanita kedua yang lebih muda sebagai pembangkit birahi

Suatu sisi lain dari kehidupan pedesaan di Jawa

Pada saat ini,

memang ada beberapa daerah pedesaan di Jawa yang para wanitanya sangat mudah tergelincir kepada perilaku pelacuran yang memang merupakan warisan budaya sejak dulu

Sedangkan cerita/legenda adat istiadat dan ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-7 adalah: Cerita/Legenda: 1

Puncak Gunung Lawu dianggap kahyangan seperti di Pewayangan (seperti juga di pegunungan Dieng) suatu usaha meyakinkan masyarakat dimasa lalu seolah-olah cerita pewayangan adalah cerita yang benar-benar terjadi di Pulau Jawa

Panembahan Senapati (pendiri kerajaan Mataram) yang menikahi Nyi Loro Kidul sebagai penjaga Mataram dilautan dan sekaligus anak perempuannya bernama Ratu Widanangga sebagai penjaga Mataram didaratan

Suatu legenda yang mungkin benar mungkin juga cerita karangan sebagai legitimitasi raja di Mataram sekaligus juga mampu menaklukkan ratu mahluk halus Nyi Loro Kidul yang dikenal sebagai penguasa lautan selatan

Adat Istiadat: Pawukon,

Pranatamangsa,

Padewan,

Padangon,

Pancasuda,

Sengkanturunan,

Taliwangke,

Samparwangke,

Paringkelan yang kesemuanya sifat-sifat hari menurut penanggalan Jawa

Saat ini umumnya dikenal sebagai horoscope yang mendasarkan pada perhitungan penanggalan Jawa

Pengetahuan Spirituil/Agama: 1

Perihal agama Budha

Menjelaskan tentang mokswa atau kesempurnaan kematian

Kalau belum bisa mencapai tingkatan mokswa akan reinkarnasi (hidup lagi) sampai tujuh kali,

tergantung tingkah laku saat hidup didunia,

kehidupan berikutnya bisa lebih baik atau lebih buruk

Wajib Rasul (meniru tingkah laku Rasul): sidik – ucapannya benar,

tablig – percaya kepada sesama dan Mokal Rasul (meniru yang tidak pernah dilakukan Rasul)

gidib – tidak menjalankan syariat,

kitman – menyembunyikan ilmu

Langkah tobat laku maksiat: Tobat dengan mohon ampun kepada Allah SWT dan tidak melakukan perbuatan tersebut lagi selama hidupnya

Isi Serat Centhini jilid-9,

melanjutkan cerita tentang perjalanan Jayengwesthi,

Jayengraga,

Kulawirya diiringi santri Nuripin dalam rangka mencari Seh Amongraga di wilayah Jawa Timur

Pelajaran dari membaca Serat Centhini jilid-9 adalah tentang niat

Antara perjalanan lelanabrata Seh Amongraga dengan perjalanan Jayengwesthi dkk

ada perbedaan pengalaman yang bagaikan bumi dan langit

Ini berkaitan degan niat

Niat Seh Amongraga melakukan lelanabrata untuk mencari kesempurnaan ilmu spritiul oleh karena itu pengalaman yang didapat adalah dalam rangka kesempurnaan ilmu agamanya,

adalah untuk mencari Seh Amongraga tanpa embelembel untuk memperdalam ilmu agama

Masih agak lumayan adalah Jayengwesthi yang masih teguh memperdalam ilmu agama dalam perjalanan sedangkan Jayengraga dan Kulawirya memanfaatkan pengalaman-pengalaman dalam perjalanan yang tidak ada kaitannya dalam memperdalam agama bahkan cenderung melakukan hal-hal yang bersifat maksiat

Ini bisa juga cerminan perjalanan hidup kita sebagai manusia yang punya keinginan luhur agar bisa mempelajari ilmu agama,

melaksanakan dalam bentuk budi pekerti yang luhur,

mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT

Tapi kenyataannya banyak dari kita tersandung-sandung dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan hidup,

melakukan banyak pelanggaran perintah agama,

berbuat maksiat tanpa mampu mengendalikan

Sangat baik kalau mampu melakukan perbaikan dan masih punya waktu untuk bertobat

Banyak dari kita tidak mampu mencapai hakekat kesempurnaan hidup dan melakukan banyak perbuatan tercela dan maksiat sepanjang hidupnya

Pilihan sepenuhnya ada dalam diri kita

Oleh karena itu niat adalah sangat penting dalam setiap langkah tindakan yang kita ambil

Dikatakan dalam buku suci Al-Qur’an,

Surat Al An'aam,

ayat (162) Katakanlah: "Sesungguhnya salat,

hidup dan matiku hanyalah untuk Allah,

Tuhan semesta alam,

ayat (163) tiada sekutu bagi-Nya

dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)"

Menurut pendapat saya ini adalah sebaik-baiknya niat untuk kehidupan

Ada dua hal yang lain yang disinggung dalam Serat Centhini Jilid 9,

Pengalaman Jayengwesthi dkk

melewati desa Padakan yang sedang tawuran dengan desa Mungur rebutan tempat menggembalaan hewan piaraan

Rupanya budaya tawuran antar kelompok maupun antar desa sudah ada sejak dulu dan masih dipelihara sampai saat ini dengan masih tetap maraknya tawuran antar suku,

Apakah ini suatu kegiatan latihan perang dan tes keberanian

? Atau budaya adu phisik peradaban primitif yang masih dipelihara

Adanya sedikit percakapan di kediaman Ki Demang Ngabei Kidang Wiracapa tentang kalangan santri dan kalangan priyayi

Dikatakan bahwa kewajiban priyayi adalah menjaga ketenteraman kerajaan dengan cara-cara

yang sudah ditetapkan oleh kerajaan tanpa harus meninggalkan perilaku beragama yang baik

Hal ini muncul karena Jayengwesthi dkk

sedangkan Ki Demang Ngabei Kidang Waracapa dulunya juga dari kalangan santri yang saat itu sudah menjadi seorang pejabat kerajaan di Trenggalek

Sedangkan cerita/legenda,

ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-9 adalah: Cerita/Legenda: Cerita tentang Panji Asmarabangun adalah kisah cinta Pangeran Jenggala dan Putri Candra Kirana dari Khauripan

Masih populer sampai dengan saat ini dikalangan masyarakat di Jawa

Adat Istiadat: Ilmu-ilmu di Jawa bukan saja berkembang berkenaan dengan kesempurnaan ilmu agama (dikatakan sebagai ilmu putih) tapi juga berkembang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kejahatan,

dan ilmu mencari kekayaan (dikatakan sebagai ilmu hitam)

Ilmu hitam pada umumnya adalah syirik yang sangat dilarang dalam agama Islam

Pengetahuan Spirituil/Agama: 1

Sembilan tingkat derajat Islam: mukmim ngam – asal-asalan,

mukmin ngabid – memakan hanya yang halal,

mukmin saleh – berbudi pekerti luhur,

mukmin jahada – banyak tirakat,

mukmin salik – menjalankan semua perintah Allah SWT,

mukmin supi – bening hatinya,

mukmin ngarip – selalu menghadap Allah SWT,

mukmin ngasik – selalu merindukan Allah SWT,

mukmin mukip – berbakti hanya kepada Allah SWT 2

Serat Panitisastra: Salah satu buku karangan R

Ranggawarsito yang mengajarkan tentang budi pekerti yang luhur

Hal-ihwal keduniawian (Kadariyah) dan keakhiratan (Kajabariyah)

Dandanggula: Kalihe tan wonten prabedaneki,

Kadariyah lan Kajabariyah,

samya saking nuring rahman lawan rahim,

Artinya: Keduniawian dan keakhiratan adalah sama-sama penting seperti siang dan malam,

rahman (kasih) dan rahim (sayang)

(Note: selama dijalankan dengan niat dan cara yang baik)

Hubungan antara topeng,

wayang dan dhalang dengan menyembah kepada Allah SWT

Pocung: De punika dhaupe marang ing ngilmu,

gendhingane punika jatining niyat

(Note: gendhing bisa berubah jadi gendheng (gila) tanpa niat untuk mengagungkan nama Allah SWT

Asmaradana: Jejer Jenggala Kediri,

Hyang wrana pribadinipun,

(Note: topeng adalah kiasan dari keberadaan roh yang merupakan keajaiban dari Allah SWT)

Megatruh: Kelir jagad gumelar wayang pinangung,

(Note: wayang adalah perumpamaan menggelar panggung dunia keberadaan manusia ciptaan Allah SWT di bumi sebagai penerangan hidup dalam menjalankan kehidupan)

Megatruh: Inggih dhalang sejati punika ratu,

kang sineren mring Hyang Agung,

(Note: dhalang sejati seperti raja yang menguasai segala hal tentang kehidupan,

yang berlindung pada Allah SWT,

menerima takdir dan menguasai peri laku segala macam manusia)

Isi Serat Centhini jilid-10: melanjutkan cerita tentang perjalanan Jayengwesthi (Jayengremi),

Jayengraga,

Kulawirya diiringi santri Nuripin dalam rangka mencari Seh Amongraga di wilayah Jawa Timur serta cerita tentang penangkapan Seh Amongraga oleh Tumenggung Wiraguna atas perintah Sultan Agung akibat ulah Jamal dan Jamil menyebarkan ilmu karang dan ilmu sihir di daerah kekuasaan Mataram yang dianggap meresahkan masyarakat setempat

Perjalanan di Serat Centhini adalah perjalanan para santri dengan berbagai niat masing-masing

Cukup banyak diceritakan di Serat Centhini perihal mudahnya terjadi pernikahan yang berumur pendek

Di jilid-2 pernah diceritakan Mas Cebolang yang menikahi empat cantrik di padepokan Seh

Wakidiyat di gunung Tidhar dan diceraikan begitu saja ketika mau meneruskan perjalanan

Di jilid-7 diceritakan Seh Amongraga meninggalkan Niken Tambangraras setelah menikah 40 hari

Pada jilid-10 ini Jayengraga menikahi Rara Widuri di Trenggalek Lembuastha hanya selama 7 (tujuh) hari kemudian ditinggal begitu saja ketika Jayengraga pulang ke Wanamarta

Apakah kebiasaan ini masih terjadi pada masa kini didaerah pengaruh budaya pesantren masih sangat kuat di pedesaan

? Pada budaya priyayi dianjurkan bahwa pernikahan hanya sekali seumur hidup dan selamanya oleh karena itu dianjurkan sangat berhati-hati memilih jodoh (paling tidak itu yang saya ingat yang diajarkan orang tua pada jaman saya)

Budaya pesantren lebih permisif perihal pernikahan,

wanitanya agak kurang berhati-hati dalam memilih pasangannya,

bisa menerima pasangan yang sudah menikah dan bisa menerima pasangannya menikah lagi

Dalam cerita di Serat Centhini pernikahan yang terjadi bukan kehendak orang tua tapi memang menjadi pilihan dari wanita tersebut karena memang tertarik dengan pasangannya,

jadi kebebasan memilih pasangan sudah ada sejak dulu pada wanita di Jawa

Yang menjadi masalah dalam memilih pasangan mereka lebih tertarik para pengelana atau para pendatang yang justru kepastian untuk kelanggengan pernikahan seumur hidup adalah sangat berisiko

Ini mungkin yang menyebabkan banyak wanita Jawa/Indonesia senang dengan para pendatang dan sangat suburnya kawin kontrak maupun kawin siri

Hal ini memang suatu tradisi kecenderungan pilihan wanita Jawa / Indonesia di pedesaan di masa lalu yang masih lestari sampai saat ini

Sedangkan budaya pernikahan kaken ninen dan satu istri selamanya adalah budaya kerajaan atau budaya priyayi yang barangkali sudah terpengaruh budaya barat

Budaya pewayangan juga menganjurkan satu istri untuk selamanya,

kalau terjadi pernikahan lebih dari satu istri hanyalah untuk tokoh-tokoh tertentu (dianggap sebagai suatu penyimpangan)

Hal lain yang juga selalu diceritakan di Serat Centhini dan diceritakan lagi di jilid-10 adalah sikap permisif terhadap penyimpangan tingkah laku seksual: 1

Jayengraga yang berhubungan sesama jenis pada waktu Rara Widuri marah dan Jayengraga tidak berani pulang

Kalawirya untuk menyembuhkan penyakit bahkan berhubungan dengan binatang (kuda)

Juga diceritakan sikap dan sifat wanita terhadap pasangannya,

kalau pada jilid-8 diceritakan

Randa Sembada yang hipersek,

pada jilid-10 ini diceritakan tentang Rara Widuri yang terlalu obsesif (cemburuan) terhadap suaminya Jayengraga

Karena sifatnya ini,

tidak malu membuat onar dimuka umum

Sifat-sifat wanita yang khusus seperti ini walaupun jarang memang masih tetap ada di masyarakat sampai dengan saat ini

Sedangkan cerita/legenda,

ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-9 adalah: Cerita/Legenda: Cerita tentang Arya Banyakwulan dari Singasari,

perihal asal usul ikan keramat di kedung Bagong

Cerita semacam ini tersebar hampir diseluruh Jawa,

adanya suatu tempat yang dikeramatkan yang dihubungkan dengan tokoh kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu

Tempat-tempat keramat bisa dijadikan pengamalan ilmu yang bersifat sirik (ilmu hitam) tapi juga bisa dijadikan tempat mendalami keajaiban kekuasaan Allah SWT (ilmu putih)

Adat Istiadat: Perbedaan wayang Krucil dan wayang Purwa

Wayang Krucil: dibuat dari kayu pipih,

bentuknya lebih kecil dari wayang purwa,

ceritanya biasanya tentang kerajaan Majapahit atau cerita Panji

Belakangan disebut juga wayang klithik (karena dibuat dari kayu kalau digerakkan berbunyi klithik-klithik)

Saat ini sudah jarang dipertunjukkan

Wayang Purwa: dibuat dari kulit,

ceritanya dari kisah Ramayana dan Mahabarata

Masih cukup populer sampai dengan saat ini terutama di masyarakat pedesaan di Jawa Tengah,

Jawa Timur atau didaerah transmigrasi di luar Jawa

Pengetahuan Spirituil/Agama: 1

Perlambang wayang sebagai perlambang hakekat yang sejati

Nonton wayang harus mengetahui cerma (kulit dan tulang) dan cermin (kaca)

Bukan hanya cerma (kulit dan tulang) yang dilihat tapi cermin (kaca) dari sari cerita ki dalang tentang kesucian dan keajaiban Allah SWT

Makna rasa topeng

Dalam kehidupan hanya ada dua perkara,

Baik dan buruk adalah suatu pilihan,

kalau memakai topeng yang bersifat baik,

tarian yang disajikan halus dan menarik,

tapi kalau memakai topeng yang bersifat buruk,

tarian yang disajikan kasar dan berangasan

Ini sejatinya pilihan dalam hidup kita

Hakekat pengabdian

Dasar pengabdian adalah sikap andhap-asor (sikap merendah)

Prabot genging utami,

Sikap dalam mendalami ilmu agama (mengaji) maupun bekerja (ngawula)

Sinom: Sapala sawiji sandhang,

andhap-asor rehning srawungan wong khatah

Artinya: menerima apapun yang serba sedikit dan selalu bersikap merendah dalam pergaulan

Hakekat ilmu kajatmikan (ketenangan hati):

Serat Centhini Jilid-11 berisi perjalanan menuju pertemuan seluruh keluarga yang saling berpisahan di Jurang Jangkung (Wanataka) serta cerita Seh Amongraga maupun beberapa keluarga dekatnya yang berhasil mendalami ilmu kesempurnaan agama melalui pendekatan ilmu tasauf dengan langkah pendalaman ilmu syariat,

Alam kesempurnaan yang telah dicapai oleh Seh Amongraga,

Jayengresmi dan Jayengraga beserta istri-istrinya menurut buku Serat Centhini Jilid 11 ini adalah: 1

Penguasaan transformasi dari badan halus (roh) ke badan kasar (jasmani) dan sebaliknya

Dengan penguasaan ini mereka bisa menjadi roh (badan halus) yang tidak kelihatan kemudian bila diinginkan bisa kembali sebagai badan kasar sebagaimana manusia biasa

Ini berlainan dengan kematian dimana roh tidak punya kemampuan kembali ke badan kasar

Hal yang mirip juga dikenal di agama Budha yang dinamakan mokswa

Kemampuan melakukan “mangunah” yaitu permohonan kepada Allah SWT untuk menjadikan atau menciptakan sesuatu yang saat itu juga bisa terlaksana

Mujijat semacam ini kalau di kitab suci Al-Qur’an hanya dipunyai oleh para nabi

Di Jawa banyak sekali cerita para wali (wali sanga) ataupun para aulia agama Islam yang punya kemampuan melakukan berbagai mujijat (atas ijin Allah SWT) yang tidak bisa dilakukan oleh

Mangunah yang dilakukan oleh Seh Amongraga dalam Serat Centhini jilid 11 adalah: 1

Lolosnya Seh Amongraga dari hukuman di larung di laut selatan

Seh Amongraga saat itu tidak meninggal dunia tapi awal dari transformasi badan kasarnya menjadi badan halus dengan sarana prabawa Raja (Sultan Ag