PDF dosis cefotaxime anak,dosis ceftriaxone -Disiplin dalam menjalankan praktek kedokteran - KKI - formularium IDAI
Wait Loading...


PDF :1 PDF :2 PDF :3 PDF :4 PDF :5 PDF :6 PDF :7


Like and share and download

formularium IDAI

Disiplin dalam menjalankan praktek kedokteran - KKI

PDF Formularium spesialistik ilmu kesehatan anakspesialis1 ika fk unair ac id Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak 2013 pdf PDF kesesuaian penggunaan antibiotik pada balita berdasarkandigilib unila ac id 6414 3 3 20Cover 20Dalam pdf PDF evaluasi penggunaan antibiotik pada balita penderita pneumonia

Related PDF

Formularium spesialistik ilmu kesehatan anak

[PDF] Formularium spesialistik ilmu kesehatan anakspesialis1 ika fk unair ac id Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak 2013 pdf
PDF

kesesuaian penggunaan antibiotik pada balita berdasarkan

[PDF] kesesuaian penggunaan antibiotik pada balita berdasarkandigilib unila ac id 6414 3 3 20Cover 20Dalam pdf
PDF

evaluasi penggunaan antibiotik pada balita penderita pneumonia

[PDF] evaluasi penggunaan antibiotik pada balita penderita pneumonia eprints ums ac id 59201 1 NASKAH 20PUBLIKASI pdf
PDF

Ikatan Dokter Anak Indonesia 2009 Pedoman Academia Edu

[PDF] Ikatan Dokter Anak Indonesia 2009 Pedoman Academia Edu joomla abstract bg ikatan dokter anak indonesia 2009 pedoman academia edu pdf
PDF

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

[PDF] KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA hukor kemkes go id KMK No HK 01 07 MENKES 107 2017 ttg Komite Nasional Penyusunan Formularium Nasional pdf
PDF

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA - USD Repository

[PDF] EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA USD Repository repository usd ac id 29804 2 148114035 full pdf
PDF

Disiplin dalam menjalankan praktek kedokteran - KKI

[PDF] Disiplin dalam menjalankan praktek kedokteran KKI kki go id 03 Dody Firmanda 2018 Disiplin dalam Menjalankan Praktik Kedokteran pdf
PDF

janaaha wp content uploads 2015 10 Formularium kajian ilmiah lebih lanjut dalam bentuk ramuan te Hasil kajian tersebut kemudian disusun dalam bentuk Buku FormulariumS Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia ioMW BuSeFmi rfmuat 25 ramuan yang digunakan dalam pengobatan kencang manis, tekanan darah tinggi, lemak darah, sakit kuning dan

Formularium Rumah Sakit

PEDOMAN PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI DI RUMAH SAKIT

depkes go id resources download general KMK No 328 perawatan di Rumah Sakit dan untuk mengatasi nyeri kanker yang tidak respon terhadap analgetik non narkotik atau nyeri pada serangan jantung FORMULARIUM NASIONAL KELAS TERAPI SUB KELAS TERAPI NAMA GENERIK SEDIAAN KEKUATAN DAN RESTRIKSI FASILITAS KESEHATAN 1 ANALGESIK, ANTIPIRETIK,

Jun 14, 2018 HI&I Hard surface and CIP cleaners • Concentrated Formulary Achieving 5 gallon pails (Net Wt 40 lbs) Refer to the 18, 2nd Edition, 5 Disinfecting, Sanitizing, Cleaning Alkyl Sulfates Calfoam®

  1. Formulary
  2. 5 gallon pails
  3. 2nd Edition
  4. HI&I applications requiring extended release
  5. Formulary for All Purpose
  6. monomer version of these derivatized APG surfactants as well as a polymeric
  7. Page 5
  8. like performance there a viable choice for HI&I industry
  9. Formulary Editor

Formulas Belleza Limpieza Cosmeticos

QUIMICA INDUSTRIAL ELABORACION PRACTICA Y TECNICA DE

cosmeticoslibni cosmeticoslibni pdf “MANUAL CON FORMULAS PARA ELABORAR PRODUCTOS COSMÉTICOS Y DE LIMPIEZA DEL HOGAR” El siguiente manual es trabajo de el Ing Libni Ramos Guzmán, Gerente de Libni Cosmetics, es un manual de buena “Fe” que se ofrece al público con el objetivo de que aprenda

Formulas DAX Para PowerPivot

DAX Functions - Tutorials Point

shared isbn lify 02 kieran schmidt 1 5N2SGVOCDGVG » PDF » Formulas DAX Para PowerPivot Una Guia Simple Hacia La Revolucion de Excel Related Books TJ new concept of the Preschool Quality Education Engineering the daily learning lionandcompass formulas dax para powerpivot PDFFree Formulas

PDF Formulario de Cálculo Diferencial e Integral ocw unizar ocw unizar es ciencias calculo integral para formulario pdf PDF cálculo diferencial e integral de funciones de una variable ugr es ~fjperez calculo diferencial integral

  1. formulario de calculo derivadas e integrales
  2. libro de calculo 1
  3. tabla de integrales
  4. derivadas trigonometricas
  5. tabla de derivadas
  6. derivadas e integrales ejercicios resueltos

Formulas de limpieza y desinfeccion.

INSTRUCTIVO PREPARACION Y MANEJO DE DESINFECTANTES QUIMICOS Y

aestu uy publicaciones 22415 Desinfeccion superficies para la tercera edad, los departamentos de larga y media duración, salas psiquiátricas y de maternidad y áreas de lavado de esterilización central Bio limpieza diaria Zona 3 alto riesgo Sala de pediatría, unidades de cuidados intensivos, accidentes, reanimación, medicina, radiología, hemodiálisis, ticevoti

Formulas de Vigas Isostaticas

1- IDENTIFICACION DEL PROGRAMA Estructuras II Arquitectura

upcommons upc edu bitstream handle 2117 78018 PFC ANEXO C Análisis de vigas sobre dos apoyos simples ANEXO D Análisis de vigas simples apoyadas en un extremo y empotradas en el otro ANEXO E Análisis de vigas biempotradas ANEXO F Análisis de vigas continuas ANEXO G Análisis de pórticos ANEXO

Formulas Del Exito en La Naturaleza H Haken Biblioteca Cientifica Salvat 062 1994

ayudando a sus niños a aprender y disfrutar de las matemáticas

PDF Ricardo Ros La formula del exito PNLnet pnlnet Ricardo 20Ros 20 20La 20formula 20matematica 20del 20exito pdf PDF El emprendedor de Exito stodomingo ute edu ec TEXTO GUIA 1 El

Home back Next

Description

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

Formularium spesialistik ilmu kesehatan anak

Formularium spesialistik ilmu kesehatan anak IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2013

FORMULARIUM SPESIALISTIK ILMU KESEHATAN ANAK IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

Tim editor Prof

Taralan Tambunan,

A(K) Dr

Lily Rundjan,

A(K) Dr

Hindra Irawan Satari,

Endang Windiastuti,

MMPaed Dr

Dadang Hudaya Somasetia,

Muzal Kadim,

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2012

SAMBUTAN KETUA UMUM PENGURUS PUSAT IDAI Salam hormat dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Atas nama Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),

saya mengucapkan selamat kepada tim editor yang telah merampungkan penyusunan dan penerbitan Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak IDAI

Kami sangat memahami kesulitan dalam penyusunan buku ini dan Syukur Alhamdulillah upaya tersebut telah memberikan hasil yang luar biasa

Buku ini akan sangat diperlukan tidak saja oleh dokter spesialis anak,

tetapi juga semua praktisi kesehatan anak

IDAI sebagai organisasi profesi atau kita sebagai individu profesional dinilai oleh masyarakat dari pelayanan kesehatan yang kita berikan kepada mereka

Pelayanan kesehatan anak yang kita berikan tentunya tidak terlepas dari obat yang kita berikan kepada pasien

Kita tidak dapat dikatakan sebagai organisasi profesi yang excellent atau sebagai individu profesional yang excellent,

bila kita tidak dapat memperlihatkan bahwa kita telah memberikan terapi yang tidak saja telah mengembalikan kualitas hidup mereka,

tetapi juga rasional dan cost effective

IDAI sangat berharap buku ini akan membantu para praktisi kesehatan saat menjalankan praktik kedokteran sehari hari dan secara tidak langsung juga meningkatkan profesionalismenya

Selamat bertugas,

Badriul Hegar Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia

Ikatan Dokter Anak Indonesia

KATA PENGANTAR Sejalan dengan program kerja Satgas Farmasi Pediatrik IDAI tahun 2011-2014,

salah satu program kerja yang ditetapkan adalah revisi buku Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak IDAI 2005/2006 dengan penambahan/ pengurangan isi merujuk pada Pediatric Dosage Handbook 2011,

Pediatric Drug Development 2009 serta Indonesian Pharmaceutical Directory 20092010 antara lain penambahan daftar obat extemporaneous use,

daftar obat unlicensed pada pediatri,

pengurangan obat seperti simetidin yang tidak digunakan lagi

Bidang spesialisasi Ilmu Kesehatan Anak merupakan bidang spesialisasi yang luas,

mempunyai subspesialisasi yang berkembang sangat pesat

Isi sebagian besar buku ini merupakan usul dan rekomendasi para UKK yang merupakan think-tank subspesialisasi di lingkungan IDAI,

sehingga diharapkan isi buku ini dapat digunakan sebagai acuan pemilihan obat dalam melaksanakan pelayanan apalagi di tempat terpencil yang jauh dari sumber informasi

Dengan diterbitkannya buku ini diharapkan penerapan penggunaan obat rasional dapat ditingkatkan

Atas nama Satgas Farmasi Pediatrik,

saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kerjasama segenap pemangku kepentingan

Saran-saran dan perbaikan isi serta mutu buku Formularium ini kami harapkan dari para sejawat di lingkungan IDAI,

khususnya dari para ketua UKK agar pada kesempatan berikutnya saran dan perbaikan yang kami terima dapat terwujud di lapangan

Satgas Farmasi Pediatrik IDAI Prof

Taralan Tambunan,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

PRINSIP PENGGUNAAN OBAT SECARA RASIONAL Pada dasarnya obat akan diresepkan bila memang diperlukan dan dalam setiap kasus,

pemberian obat harus dipertimbangkan berdasarkan manfaat dan risikonya (cost-benefit ratio)

Kebiasaan peresepan obat yang tidak rasional akan berdampak buruk bagi pasien seperti kurangnya efektivitas obat,

Dalam buku Guide to Good Prescribing yang diterbitkan oleh WHO tahun 1994 telah dibuat pedoman penggunaan obat secara rasional

Langkahlangkah pengobatan obat rasional tersebut disusun sebagai berikut:

Langkah 1: Tetapkan masalah pasien Sedapat mungkin diupayakan menegakkan diagnosis secara akurat berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisis yang seksama,

pemeriksaan penunjang yang tepat

Diagnosis yang akurat serta identifikasi masalah yang jelas akan mempermudah rencana penanganan

Langkah 2: Tentukan tujuan terapi Tujuan terapi disesuaikan untuk setiap masalah atau diagnosis yang telah dibangun berdasarkan patofisiologi penyakit yang mendasarinya

Langkah 3: Strategi pemilihan obat Setiap pemilihan jenis penanganan ataupun pemilihan obat harus sepengetahuan dan kesepakatan dengan pasien

Pilihan penanganan dapat berupa penanganan non farmakologik maupun farmakologik

Pertimbangan biaya pengobatan pun harus dibicarakan bersama-sama dengan pasien atau keluarga pasien

• Penanganan non farmakologik Perlu dihayati bahwa tidak semua pasien membutuhkan penanganan berupa obat

Sering pasien hanya membutuhkan nasihat berupa perubahan gaya hidup,

sekedar fisioterapi atau psikoterapi

Semua instruksi tersebut perlu dijelaskan secara rinci dengan dokumen tertulis

• Penanganan farmakologik Berdasarkan pemahaman patofisiologi penyakit serta farmakodinamik obat dilakukan pemilihan jenis obat dengan mempertimbangkan efektivitas,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Langkah 4: Penulisan resep obat Sebuah resep obat berisi perintah dari penulisnya kepada apoteker sebagai pihak yang menyerahkan obat kepada pasien

Resep harus ditulis dengan jelas,

mudah dibaca dan memuat informasi nama dan alamat penulis resep,

dengan singkatan dan satuan yang baku,

umur pasien serta alamat juga dicantumkan,

kemudian dibubuhi paraf atau tanda tangan dokter

Langkah 5: Penjelasan tentang aturan pakai dan kewaspadaan Pasien memerlukan informasi,

instruksi dan peringatan yang akan memberinya pemahaman sehingga ia mau menerima dan mematuhi pengobatan dan mempelajari cara minum obat yang benar

Informasi yang jelas akan memperingatkan kepatuhan pasien

Langkah 6: Pemantauan pengobatan

Pemantauan bertujuan untuk menilai hasil pengobatan dan sekaligus menilai apakah diperlukan tambahan upaya lain

Pemantauan dapat dilakukan secara pasif maupun aktif

Pemantauan pasif artinya dokter menjelaskan kepada pasien tentang apa yang harus dilakukan bila pengobatan tidak manjur

Pemantauan aktif berarti pasien diminta datang kembali pada waktu yang ditentukan untuk dinilai hasil pengobatan terhadap penyakitnya

DAFTAR PUSTAKA • de Vries TPGM,

Henning RH,

Hogerzeil HV,

Frezle DA

Guide to good prescribing

World Health Organization

Action programme on essential drugs

Geneva,

Ryan RSM,

Hogerzeil HV (penyunting)

WHO Model Formulary,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Daftar Isi Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI

v Prinsip Penggunaan Obat Secara Rasional

9 Amikasin

Busulfan

42 Dapson

88 viii

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Hidroklorotiazid (HCT)

- Cilastin

Metotreksat

148 Morfin

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Ranitidin

219 Zinc,

Suplemen

Ikatan Dokter Anak Indonesia

DAFTAR REFERENSI UTAMA

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Abacavir

Indikasi Infeksi HIV

Kontra Indikasi Pasien yang hipersensitif terhadap abacavir

Perhatian • Dapat diberikan tanpa makanan • Peringatkan pasien dan orang tua tentang risiko serius dari reaksi hipersensitivitas yang dapat mematikan

Dosis Dosis bayi/neonatus: Tidak diperbolehkan untuk bayi 21–2 thn,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Trichuriasis per oral,

Strongyloidiasis per oral,

Kapilariasis per oral,

Cutaneous larva migrans pada semua umur,

Efek samping Gangguan saluran cerna,

dan jarang terjadi pansitopenia

syok alergik bila terjadi kebocoran kiste (cyst leakage)

konvulsi dan meningisme pada penyakit serebral

Sediaan Kaplet : 400 mg

Suspensi : 200 mg/5mL [10 mL]

Alopurinol Indikasi Pencegahan hiperurikemia

Kontra Indikasi Gout akut (bila terjadi serangan gout akut saat menggunakan alopurinol,

lanjutkan profilaksis dan obati serangan secara terpisah)

Peringatan dan Perhatian Pastikan asupan cairan minimal 2 liter sehari

kerusakan fungsi ginjal dan hati (Lampiran 4 dan 5)

Hentikan pengobatan bila terjadi ruam,

ulangi pengobatan bila ruam ringan tetapi segera hentikan pengobatan bila kembali terjadi ruam

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Profilaksis Hiperurikemia : < 6 tahun : 150 mg/hari dalam 3 dosis terbagi

< 15 tahun : 10 – 20 mg/KgBB/hari (maksimum 400 mg/ hari)

Efek samping Ruam,

reaksi hipersensitivitas jarang terjadi seperti : eksfoliasi,

Sindroma Stevens-Johnson,

Sangat jarang terjadi : epilepsi,

gangguan penglihatan dan pengecapan,

gangguan darah (termasuk leukopeni,

anemia hemolitik dan anemia aplastik)

Sediaan Tablet : 100 mg,

Aluminium Hidroksida Indikasi Dispepsia,

Kontra Indikasi Hipofosfatemia

perdarahan saluran cerna atau rektum

Peringatan perhatian Kerusakan ginjal dan dialisis ginjal

hipomotilitas atau obstruksi saluran cerna

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Dosis Dispepsia,

refluks gastro-esofageal : 6 – 12 tahun : 5 mL hingga 3-4 kali/hari sesudah makan

Hiperfosfatemia Anjuran

Jangan minum obat lain setelah penggunaan Aluminium hidroksida

Diminum bersama air putih untuk mengurangi efek

Anak: Hiperfosfatemia Oral: 50-150 mg/kgBB/hari dibagi dalam dosis setiap 4-6 jam diminum bersama makanan pada pasien hiperfosfatemia

Catatan Monitor kadar fosfat serum

Hindari pada pasien gagal ginjal kronik karena dapat menimbulkan demensia dan gangguan tulang (brittlebone disease)

Dapat mengurangi absorpsi banyak obat

Obat lain diberikan 2 jam setelah aluminium hidroksida

Efek samping Konstipasi

obstruksi saluran cerna (dosis besar)

hipofosfatemia dengan peningkatan resorpsi tulang,

hiperkalsiuria dan risiko osteomalasia (pada pasien diet rendah fosfat atau terapi jangka panjang)

hiperaluminemia – menyebabkan osteomalasia,

anemia mikrositer (pada pasien gagal ginjal kronik yang diobati dengan aluminium hidroksida sebagai zat pengikat fosfat (phosphate-bind­ing agent))

Sediaan Tablet : 500 mg

Suspensi oral : 320 mg/5 mL

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Amfoterisin B

Indikasi Infeksi jamur mengancam hidup (life-threatening) termasuk histoplasmosis,

Coccidioidomycosis,

Blastomycosis,

Aspergillosis,

Cryptococcosis,

Mucormycosis,

Sporotrichosis,

Leishmaniasis

Peringatan Perhatian Perlu dilakukan supervisi ketat selama terapi dan dilakukan tes sebelum pemberian dosis awal meskipun jarang terjadi anafilaksis pada penggunaan IV

Pasien harus diobservasi kurang lebih selama 30 menit setelah tes

Hindari pemberian infus cepat (risiko aritmia)

Selama terapi dilakukan tes fungsi hati dan ginjal,

hitung darah dan pemeriksaan elektrolit plasma

Kerusakan fungsi ginjal

Dosis Infeksi jamur sistemik : Infus IV : Dosis tes : 1 mg dalam 20-30 menit jika ditoleransi tanpa munculnya efek samping yang serius,

maka dilanjutkan dengan dosis 250 µg/kgBB/hari,

dan dinaikkan bertahap hingga 1 mg/kgBB/hari,

atau pada infeksi berat sampai 1,5 mg/kgBB/hari atau selang sehari

Pada neonatus : • Dosis IV : 0,25 mg/kgBB/hari • Tingkatkan dosis 0,25 mg/kgBB/hari sampai maksimal 1 mg/kgBB/hari

• Peningkatan dosis dapat ditingkatkan 0,5 mg/kgBB/hari pada infeksi berat saat fungsi ginjal normal dan penggunaan infus 6 jam dapat diterima

intraventricular atau intracisternal : 25 – 100 mikrogram setiap 48 – 72 jam,

ditingkatkan hingga 500 mikrogram

• Catatan: Biasanya diperlukan terapi jangka panjang

bila terputus selama lebih dari 7 hari,

dianjurkan untuk mulai dengan dosis 250 mikrogram/ kgBB/hari kemudian dinaikkan bertahap

Medication error termasuk kematian,

merupakan akibat kerancuan antara bentuk lipid Amfoterisin B dan bentuk konvensional Amfoterisin B untuk injeksi

Bentuk konvensional Amfoterisin B untuk injeksi tidak boleh melebihi 1,5 mg/kgBB/hari

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Efek Samping Demam,

dispepsia dan nyeri epigastrik,

gangguan fungsi ginjal termasuk hipokalemia,

hipomagnesemia dan toksisitas ginjal,

kardiotoksik (termasuk aritmia)

gangguan neurologik (termasuk neuropati perifer),

fungsi hati abnormal (pengobatan dihentikan),

nyeri dan tromboflebitis pada tempat injeksi

Sediaan Injeksi : 50 mg

Serbuk injeksi : 50 mg/vial

Amikasin Amikasin adalah antibiotik aminoglikosida semi-sintetik yang digunakan pada terapi infeksi gram negatif yang resisten terhadap gentamisin

Umumnya digunakan sebagai kombinasi dengan penisilin atau sefalosporin

Indikasi ISK,

infeksi kulit dan jaringan lunak,

Kontra Indikasi Hipersensitif terhadap aminoglikosida,

Peringatan dan perhatian Pada bayi prematur dan bayi cukup bulan karena ginjal masih imatur menyebabkab serum half-life memanjang

Dosis Cara pemberian secara suntikan IM single dose atau IV melalui infus selama 1-2 jam untuk bayi dan 30-60 menit untuk anak

Dosis sesuai dengan berat badan ideal

Untuk pasien dengan fungsi ginjal normal 15 mg/kgBB berat badan per hari dibagi dengan interval 8-12 jam

Dosis tidak boleh melebihi 15 mg/kgBB atau 1,5 gram perhari

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Neonatus: IV,

IM : 7,5 mg/kgBB/kali Interval • Usia koreksi < 28 minggu : setiap 36 jam • Usia koreksi 28 – 29 minggu : setiap 24 jam • Usia koreksi 30 – 35 minggu : setiap 18 jam • Usia koreksi ≥ 36 minggu : setiap 12 jam • Untuk bayi yang usia koreksi ≥ 37 minggu dan usia > 7 hari,

Interval dosis mungkin perlu diperpanjang pada gangguan fungsi ginjal

• Umur >10 tahun: 20 mg/kgBB pada hari pertama,

dilanjutkan 15 mg/ kgBB/ hari (maksimal 1,5 gram/hari)

Efek Samping Ototoksik dan nefrotoksik

Jarang: ruam kulit,

Sediaan Vial untuk injeksi dengan kemasan 250,

500 mg,

Aminofilin dan Teofilin Turunan golongan xantin

Indikasi Asma kronis termasuk asma nokturnal

stimulan sistem saraf pusat (SSP) pada penanganan apneu prematur

Kontra Indikasi Porfiria,

hipersensitif terhadap etilendiamin

Peringatan Perhatian Penyakit jantung,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Dosis Asma kronik : Oral : anak >12 tahun,

Asma berat akut (yang belum pernah diobati dengan teofilin) : Bolus : 5 mg/kgBB,

injeksi IV perlahan (minimal selama 20 menit)

Dosis pemeliharaan : Infus IV: 6 bulan – 9 tahun : 1 mg/kgBB/jam

Dosis teofilin dimonitor dan disesuaikan dengan kadar teofilin plasma

Neonatus :Apneu pada prematur : Dosis awal : 6 mg/kgBB Dosis rumatan : • Berat badan sekarang ≤ 1 kg: dimulai 24 jam setelah dosis awal • Berat badan sekarang > 1 kg: dimulai 12 jam setelah dosis awal

IV: • • • •

Usia ≤ 7 hari 2,5 mg/kgBB/kali setiap 12 jam Usia 8 – 14 hari 3 mg/kgBB/kali setiap 12 jam Usia > 14 hari 4 mg/kgBB/kali setiap 12 jam Sesuaikan dosis menurut respons,

peningkatan berat badan dan kadar aminofilin serum

Kadar aminofilin TIDAK rutin diperiksa

Kadar ini hanya diperiksa ketika timbul gejala keracunan aminofilin

Catatan : • Kadar teofilin dalam plasma untuk respon optimal 10-20 mg/mL (55-110 umol/L)

Kadar 5

Teofilin mempunyai margin sempit antara dosis terapi dan dosis toksik

• Pasien yang sedang menggunakan teofilin atau aminofilin sebaiknya jangan diberikan aminofilin IV kecuali diketahui kadar teofilin plasma untuk menyesuaikan dosis

Efek Samping Mual dan gangguan saluran cerna lain,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

aritmia dan hipotensi – terutama bila diberikan IV cepat

eritema dan dermatitis eksfoliativa – akibat dari hipersensitif terhadap etilendiamin dari aminofilin

Sediaan Tablet Teofilin : 100 mg

Tablet Aminofilin : 150 mg

Larutan injeksi Aminofilin : 24 mg/mL,

Amoksisilin Amoksisilin merupakan penisilin spektrum luas

Indikasi Infeksi saluran kemih,

infeksi saluran napas bagian atas,

profilaksis paska-splenektomi,

Kontra Indikasi Hipersensitif terhadap golongan penisilin (lihat catatan diatas)

Peringatan Perhatian Riwayat alergi,

ruam eritematosus umum terjadi pada demam karena infeksi pada kelenjar limfe,

Dosis Infeksi karena organisme yang sensitif : Oral : • > 10 tahun,

dosis digandakan pada infeksi berat,

• 28 hari setiap 8 jam Untuk usia gestasi ≥ 37 minggu ≤ 7 hari setiap 12 jam > 7 hari setiap 8 jam Interval dosis dapat diturunkan dari tiap 8 menjadi 6 jam pada tersangka meningitis atau septikemia,

Bayi 1- 3 bulan : • Oral : 20

• Bayi > 3 bulan dan anak : 25 – 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 8 jam atau 25

Otitis media (terapi jangka pendek) : Oral : 3 – 10 tahun,

Otitis media akut dengan strain S

Uncomplicated Gonorrhea : • < 2 tahun : Probenesid,

dikontraindikasikan untuk usia ini

• = 2 tahun : 50 mg/kgBB ditambah Probenesid 25 mg/kgBB dalam dosis tunggal

Pencegahan : Endokarditis,

Setelah kontak dengan Anthrax : < 40 kg : 45 mg/KgBB/ hari dalam dosis terbagi setiap 8 jam

Demam rematik : 1 – 5 tahun : 2 kali 125 mg/hari

Efek Samping Mual dan muntah,

ruam (hipersensitivitas atau reaksi toksik

bisa menjadi serius – hentikan pengobatan)

reaksi hipersensitivitas termasuk urtikaria,

nefritis interstitial (lihat juga catatan diatas)

Jarang : kolitis,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

gangguan sistem saraf pusat termasuk konvulsi (berhubungan dengan dosis tinggi atau kerusakan fungsi ginjal)

Sediaan Kapsul : 250 mg,

Serbuk suspensi oral : 125 mg/5 mL

Amoksisilin + Asam Klavulanat Indikasi Infeksi yang disebabkan oleh bakteri penghasil beta­-laktamase termasuk infeksi saluran napas,

infeksi uro­genital dan abdominal,

Kontra Indikasi Hipersensitivitas terhadap golongan penisilin

mempunyai riwayat ikterus atau gangguan fungsi hati akibat penisilin atau amoksisilin dengan asam klavulanat

Peringatan Perhatian Riwayat alergi,

ruam eritematosus umum terjadi pada glandular fever,

Dosis (Dosis dihitung untuk Amoksisilin)

Infeksi yang disebabkan organisme penghasil beta-laktamase yang sensitif: Oral :1-6 tahun : 125 mg setiap 8 jam

> 12 tahun : 250 mg setiap 8 jam,Dosis digandakan pada infeksi berat

Infeksi yang disebabkan organisme penghasil beta-laktamase yang sensitif: Injeksi IV perlahan

Neonatus dan bayi lahir prematur : 25 mg/kgBB setiap 12 jam

< 3 bulan : 25 mg/kgBB setiap 8 jam

> 12 tahun : 1 g setiap 8 jam,

dinaikkan menjadi 1 g setiap 6 jam pada infeksi berat

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Efek Samping Mual dan muntah,

ruam (hipersensitivitas atau reaksi toksisitas,

reaksi hipersensitivitas termasuk urtikaria,

Jarang terjadi: kolitis

konvulsi (terutama pada dosis besar atau pada kerusakan fungsi ginjal,

eritema multiform (termasuk sindroma Stevens-Johnson),

Sediaan Tablet,

amoksisilin (sebagai trihidrat) 500 mg + asam klavulanat (sebagai garam K) 125 mg

Serbuk suspensi oral,

amoksisilin (sebagai trihidrat) 125 mg + asam klavulanat (sebagai garam K) 31 mg

Serbuk suspensi oral,

amoksisilin (sebagai trihidrat) 250 mg + asam klavulanat (sebagai garam K) 62 mg

Serbuk injeksi,

amoksisilin (sebagai garam Na) 0,5 g atau 1 g + asam klavulanat (sebagai garam K) 100 mg arau 200 mg

Ampisilin Indikasi Mastoiditis

Infeksi ginekologik

osteomielitis yang disebabkan oleh kuman yang sensitif

Kontra Indikasi Hipersensitif terhadap golongan penisilin

Peringatan Perhatian Riwayat alergi,

ruam eritematous (umum terjadi pada glandular fever),

leukemia limfositik kronik dan infeksi HIV

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Dosis • IV: Neonatus : 25 – 50 mg/kgBB/dosis

usia 2 – 4 minggu : setiap 6 – 8 jam • Bayi dan anak Oral : 7,5 – 25 mg/kgBB/dosis setiap 6 jam • IV,

IM : Infeksi biasa : 10 – 25 mg/kgBB/dosis setiap 6 jam,

infeksi berat: 50 mg/kgBB/dosis setiap 4 jam • Meningitis: injeksi IV lambat,

Efek Samping Mual dan muntah,

ruam (hipersensitivitas atau reaksi toksik bila serius,

reaksi hipersensitivitas termasuk urtikaria,

Jarang : kolitis

Sediaan Serbuk injeksi (sebagai garam Na) 500 mg/vial Injeksi 250 mg,

500 mg,

Ampisilin + Sulbaktam Ampisilin-Sulbaktam merupakan antibiotik dengan spektrum antibakteri seperti ampisilin serta meliputi organisme yang memproduksi betalaktamase seperti S

Klebsiella,

Acinetobacter,

Enterobacter,

Indikasi Infeksi bakteri pada kulit dan struktur kulit,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Kontra Indikasi Hipersensitivitas komponennya

Peringatan perhatian • Infeksi virus Epstein-Barr,

atau infeksi sitomegalovirus meningkatkan risiko timbulnya ruam makulopapular terkait pemberian ampisilin

pemberian pada anak 1 bulan : 100 – 150 mg ampisilin/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam

Meningitis: 200 – 300 mg ampisilin/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam • Anak : 100 – 200 mg ampisilin/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam

Meningitis: 200 – 400 mg ampisilin/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam

dosis maksimal: 8 g ampisilin/hari

Interval dosis pada gangguan fungsi ginjal: • Clcr 15-29 mL/menit: pemberian setiap 12 jam • Clcr 5-14 mL/menit: pemberian setiap 24 jam Pemberian obat secara parenteral dapat dilakukan dengan cara injeksi intravena perlahan selama 10 – 15 menit atau infus intermiten selama 15 – 30 menit

Efek samping: Kardiovaskular: nyeri dada

hematologik: penurunan sel darah putih,

hepatik: peningkatan enzim hati

reaksi lokal: nyeri pada lokasi penyuntikan (IM :

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

IV :3%),

ginjal: peningkatan ureum dan kreatinin

lain-lain: reaksi hipersensitivitas,

Sediaan: Serbuk injeksi 750 mg (sulbaktam 250 mg,

Antihemophilic Factor Antihemophilic factor sebagai terapi defisiensi faktor VIII pada hemofilia A

Indikasi Sebagai terapi defisiensi faktor VIII pada hemofilia A

Kontra Indikasi Hipersensitif terhadap protein tikus (Monoclate P,

Hemofil M,

Method M,

Monoclonal Purified)

protein Antihemophillic Factor (manusia)

Peringatan Perhatian Hati-hati dengan risiko penularan virus hepatitis dan HIV pada penggunaan human antihemophilic factor

Anemia dan hemolisis progresif dapat terjadi pada individu dengan golongan darah A,

B dan AB yang menerima dosis cukup besar ataupun dosis berulang menyebabkan isohemagglutinin golongan darah A dan B

Monitoring frekuensi detak jantung sebelum dan selama pemberian antihemophilic factor terhadap bahaya takikardia

Juga monitoring kadar plasma antihemophilic fac­tor sebelum dan sesudah pengobatan

Dosis Diberikan dosis 20-50 unit/kgBB/dosis setiap 12-24 jam yang dapat ditingkatkan sesuai dengan keadaan

Perkiraan presentase kenaikan plasma antihemophylic factor :unit yg dibutuhkan = BB (kg) x 0,5 x kenaikan F

VIII yg ditentukan (% dari normal)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Asam Folat Asam folat esensial untuk sintesis DNA dan protein tertentu

Defisiensi asam folat atau vitamin B12 menimbulkan anemia megaloblastik

Asam folat jangan diberikan pada anemia megaloblastik kecuali bersama vitamin B12,

karena dapat menyebabkan neuropati

Indikasi Pengobatan anemia megaloblastik defisiensi folat

Kontra Indikasi Jangan pernah diberikan tanpa vitamin B12 pada anemia megaloblastik atau anemia defisiensi vitamin B12 lainnya karena risiko percepatan terjadinya degenerasi sub akut saraf spinal,

folate-dependent malignant disease

Dosis Dosis harian yang direkomendasikan (Recommended Daily Allowance/ RDA) :

Oral : Neonatus prematur Neonatus – 6 bulan 6 bulan – 3 tahun 4 – 6 tahun 7 – 10 tahun 11 – 14 tahun > 15 tahun

: 50 µg (~15 µg /kgBB/hari) : 25-35 µg : 50 µg : 75 µg : 100 µg : 150 µg : 200 µg

Defisiensi asam folat : oral,

IM dalam,

SC : Bayi : 15 µg/kgBB/dosis sehari atau 50 µg/hari Anak : dosis awal 1 mg/hari,

dosis pemeliharaan 1-10 tahun: 0,10,4 mg/hari,

anak >11 tahun: dosis awal 1 mg/hari,

dosis pemeliharaan 0,5 mg/hari

Efek Samping Susah tidur,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Sediaan

Tablet 1 mg,

Asam Nalidiksat Indikasi Infeksi saluran kemih,

Kontra Indikasi Defisiensi G6PD

Peringatan Perhatian Riwayat epilepsi atau kondisi predisposisi kejang,

miastenia gravis (risiko eksaserbasi,

hindari paparan terhadap sinar matahari yang berlebihan),

Jarang : kerusakan tendon (segera hentikan bila timbul gejala nyeri atau inflamasi dan istirahatkan tungkai yang terkena,

gangguan fungsi hati (lampiran 6),

gangguan fungsi ginjal (Lampiran 5),

Monitor darah rutin,

fungsi ginjal dan hati jika pengobatan lebih dari 2 minggu

Dosis Infeksi saluran kemih Oral : > 3 bulan: maksimum 55 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi

Untuk penggunaan jangka lama dosis dikurangi menjadi 30 mg/kgBB/hari

Shigellosis > 3 bulan 15 mg/kgBB tiap 6 jam selama 5 hari

Diminum dalam perut kosong,

Efek Samping Mual,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

(jarang : sindroma Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik),

Lebih jarang : anoreksia,

peningkatan urea dan kreatinin darah,

peningkatan tekanan intrakranial,

kelumpuhan saraf otak,fotosensitif,

Gangguan penglihatan,

Juga dilaporkan inflamasi dan kerusakan tendon,

gangguan fungsi hati (ikterus kolestasis,

Bila timbul gangguan psikiatrik,

neurologi atau reaksi hipersensitivitas (termasuk ruam) hentikan terapi

Sediaan Tablet 250 mg,

Asam Valproat Indikasi Epilepsi: Absens,

epilepsi mioklonik tipe juvenile,

kejang parsial sederhana dan kompleks

Asam valproat tidak bersifat sedasi dan efek terhadap kognitif serta perilaku lebih kecil dibandingkan fenobarbital

Kontra Indikasi Valproat tidak boleh diberikan penderita penyakit hati atau gangguan fungsi hati

Peringatan Perhatian Anak usia < 2 tahun,

anak dengan gangguan metabolik kongenital,

serangan kejang yang berat disertai retardasi mental,

Penderita gangguan fungsi hati,

gangguan agregasi trombosit dan gangguan koagulasi

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Dosis Dosis inisial 10-15 mg/kgBB/hari ,

dinaikkan secara bertahap 5-10 mg/kgBB/ minggu untuk mencapai respon klinik yang optimal

Yang biasanya sudah tercapai dengan dosis di bawah 60 mg/kgBB/hari

Jika respon optimal tidak tercapai,

pengukuran kadar obat dalam plasma dilakukan untuk melihat apakah kadar terapeutik sudah tercapai (50-100 ìg/mL)

Pemakaian obat dengan dosis di atas 60 mg/kgBB/hari tidak direkomendasikan

Efek Samping Mual,

depresi sumsum tulang serta kelemahan,

Gangguan fungsi hati,

hiperamonemia ,dan pankreatitis

Sediaan Sirup 250 mg/5 mL

Tablet salut gula : 150 mg,

Asiklovir Indikasi Pengobatan herpes genital primer,

disseminated vari­cella-zoster pada pasien immunocompromised dengan penyulit susunan saraf pusat (SSP),

Peringatan Perhatian Pertahankan kecukupan hidrasi

gangguan fungsi ginjal (Lampiran 5)

Dosis Gunakan satuan dosis mg/kgBB untuk anak < 2 tahun dan berdasarkan luas permukaan tubuh untuk anak > 2 tahun

Neonatus Herpes simplex Dosis IV : 20 mg/kgBB/kali,

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Interval Usia koreksi < 30 minggu : setiap 24 jam Usia koreksi 30 – 32 minggu : setiap 18 jam Usia koreksi > 32 minggu : setiap 12 jam Pertimbangkan untuk mengurangi interval pada bayi yang berusia > 1 minggu,

Preterm 10 mg/kgBB/dosis setiap 12 jam

Dosis dapat dikurangi,

sesuai dengan kematangan fungsi ginjal

Aterm 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam selama 10-14 hari

Bayi dan anak Herpes simpleks (non ensefalitis) IV Oral

< 2 tahun : 100 mg/dosis 5 kali/hari > 2 tahun : 200 mg/dosis 5 kali/hari

Herpes simpleks ensefalitis,

Varicella dengan komplikasi IV

: 500 mg/m2/dosis setiap 8 jam atau 10 mg/ kgBB/dosis setiap 8 jam selama 10-14 hari

Herpes zoster Oral : 20 mg/kgBB/dosis (maksimal 800 mg/dosis) 5 kali/hari

Immunocompromised Herpes simpleks (dengan ensefalitis) IV

: 500 mg/m2/dosis setiap 8 jam atau 10 mg/kgBB/ dosis setiap 8 jam

Pencegahan Oral : < 2 tahun : 100 mg/dosis 3 – 4 kali sehari

> 2 tahun : 200 mg/dosis 3 – 4 kali sehari

Herpes simpleks (tanpa ensefalitis) Pengobatan Oral : < 2 tahun : 200 mg/dosis 5 kali sehari

> 2 tahun: 400 mg/ dosis 5 kali sehari

Varicella,

: 500 mg/m2/dosis setiap 8 jam atau 10 mg/kgBB/ dosis setiap 8 jam

: 20 mg/kgBB/dosis (maksimal 800 mg/dosis) 5 kali sehari

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Herpes zoster opthalmicus IV : 500 mg/m /dosis setiap 8 jam atau 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam Topikal : Salep mata 5 kali sehari selama 14 hari atau minimal selama 3 hari setelah sembuh sempurna 2

Herpes simpleks keratitis Topikal : Salep mata 5 kali sehari selama 14 hari atau minimal selama 3 hari setelah sembuh sempurna

Herpes simpleks Topikal : 4 kali sehari selama 5 hari,

dimulai saat pertama kali lesi muncul

Efek samping Ruam,

peningkatan bilirubin dan enzim hati,

peningkatan kadar urea darah dan kreatinin,

inflamasi lokal pada pemberian infus IV (jarang terjadi ulserasi),

Sediaan Injeksi : 250 mg,

500 mg,

25 mg/mL,

[10 mL,

Tablet : 200 mg,

400 mg,

Suspensi oral: 200 mg/5 mL

Salep : 5 %

Salep mata : 3 %

Aspirin / Asam Asetil Salisilat Mempunyai efek anti inflamasi,

Indikasi Demam,

nyeri dan inflamasi pada reumatoid artritis dan gangguan muskuloskeletal lainnya (termasuk artritis juvenil)

Kontra Indikasi Hipersensitivitas terhadap asam asetilsalisilat atau NSAID yang lain (termasuk asma,

hemofilia dan gangguan perdarahan lainnya

Anak < 12 tahun (sindrom Reye) kecuali untuk artritis juvenil (penyakit Still)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Peringatan Perhatian Asma,

defisiensi G6PD (Glucose-6-phospat dehidrogenase)

Dosis Bersama atau sesudah makan,

anak < 12 tahun tidak dianjurkan

Nyeri ringan sampai sedang : 300 – 900 mg tiap 4 – 6 jam bila diperlukan

Analgesik dan antipiretik : Oral,

rektal : 10-15 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 jam

Artritis Juvenil : Oral,

Kondisi akut : < 130mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 5 – 6

Dosis pemeliharaan : 80-100 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi

Kadar salisilat harus dikontrol pada pemakaian dosis tinggi

Efek Samping Bronkospasme,

GI discomfort atau mual,

ulserasi disertai perdarahan gastrointestinal (penggunaan bersama air minum,

atau susu dapat menurunkan gangguan pada saluran cerna),

juga perdarahan lainnya (misalnya subkonjungtiva)

Pada umumnya ringan dan tidak sering terjadi pada penggunaan dosis rendah

Gangguan pendengaran seperti tinitus (jarang terjadi tuli),

reaksi hipersensitivitas (angioedema,

gangguan darah (terutama trombositopenia)

Sediaan Tablet 50,

Supositoria 150 mg,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Atenolol

Atenolol merupakan antagonis beta-adrenoseptor

Indikasi Aritmia,

Kontra Indikasi Asma atau riwayat penyakit obstruksi jalan napas (kecuali bila tidak ada obat alternatif)

blok atrioventrikuler derajat 2 dan 3,

feokromositoma (kecuali digunakan bersama alfa-­bloker)

Peringatan Perhatian Blok atrioventrikuler derajat 1,

gangguan fungsi hati pada hipertensi portal

dosis dikurangi pada pasien dengan kerusakan ginjal,

diabetes melitus (sedikit penurunan pada toleransi glukosa,

menutupi gejala-gejala hipoglikemia),

riwayat hipersensitivitas (meningkatkan reaksi terhadap alergen dan juga mengurangi respon terhadap epinefrin)

Dosis Oral : Dosis awal : 0,8–1 mg/kgBB/dosis diberikan setiap hari

dosis maksimum 2 mg/kgBB/hari,

jangan melebihi dosis maksimum dewasa 100 mg/hari

IV : Dosis : 0,02–0,05 mg/kgBB/kali setiap 5 menit sampai timbulnya respon (maksimal 4 dosis),

dilanjutkan 0,1 – 0,2 mg/kgBB/dosis (maksimal 10 mg/dosis) setiap 12 jam jika diperlukan

Efek Samping Gangguan saluran cerna (mual,

dan mata kering (sindroma okulomukokutaneus) – jarang terjadi dan reversibel pada penghentian obat

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Sediaan Injeksi : 0,5 mg/mL [10 mL]

Tablet : 50 mg

Atropin Sulfat Indikasi Premedikasi,

untuk mencegah terjadinya refleks vagal,

sebagai parasimpatolitik dari antikolinesterase misalnya neostigmin,

Kontra Indikasi Ileus paralitik,

Peringatan Perhatian Sindroma Down,

Dosis Pada neonatus Intubasi endotrakeal (dengan morfin dan suksametonium) IV : 20 mikrogram/kgBB/kali

Diberikan sebelum suksametonium (pelumpuh otot)

Resusitasi IV : 0,02 mg/kgBB/dosis

Premedikasi : Bayi dan anak : IM : < 5 kg : 0,02 mg/kgBB/dosis 30 – 60 menit pre operasi kemudian setiap 4 – 6 jam sesuai kebutuhan

Penggunaan dosis minimum 0,1 mg pada neonatus < 5 kg akan menghasilkan dosis > 0,02 mg/ kgBB,

belum ada catatan tentang dosis minimum pada kelompok usia ini

> 5 kg : 0,01-0,02 mg/kgBB/dosis hingga maksimum 0,4 mg/dosis 30-60 menit preoperasi dosis minimum 0,1 mg

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Bradikardia : IV : 0,02 mg/kgBB,

dosis tunggal maksimum 0,5 mg untuk anak dan 1 mg untuk remaja

dosis total maksimum 1 mg untuk anak dan 2 mg untuk remaja

bila tidak memberikan respons lakukan perbaikan oksigenasi dan pemberian epinefrin)

Penghambat blok neuromuskuler : injeksi IV 2-3 menit sebelum antikolinesterase,

Keracunan organofosfat : injeksi IM atau IV (tergantung keparahan keracunan) : 20 mikrogram/kgBB tiap 5-10 menit sampai terjadi atropinisasi (kulit berwarna merah dan panas,

selanjutnya setiap 1-4 jam selama minimum 24 jam

Resusitasi : IV : 0,02 mg/kgBB/dosis

Efek Samping Mulut kering

Jarang terjadi : aritmia,

terutama pada anak yang demam,

bradikardia transien (diikuti dengan takikardi,

midriasis dengan kesulitan akomodasi,

Sediaan Injeksi,

sebagai sulfat : 0,25 mg/mL (1 mL) 1 mg/mL (1 mL,

Azatioprin Azatioprin sebagai obat immunosupresi

Indikasi Sebagai pencegahan rekasi penolakan pada pasien penerima transplantasi organ (dengan kortikosteroid,

radiasi lokal atau agen sitotoksik lain),

juga Ikatan Dokter Anak Indonesia

sebagai immunosupresi pada penyakit autoimmun,

seperti systemic lupus erithematosus,

reu­matoid artritis berat yang tidak responsif terhadap pengobatan konvensional,

pengobatan sindroma nefrotik dan Chron’s disease

Kontra Indikasi Hipersensitif terhada azatioprin atau salah satu komponennya

Penggunaan bersama dengan mycophenolate

Peringatan Perhatian Pemakaian immunosupresi jangka panjang dapat menyebabkan risiko terjadinya neoplasma,

kanker kulit serta depresi sumsum tulang yang bersifat menetap

Hati-hati penggunaannya pada penderita dengan gangguan hati dan ginjal

hitung jenis sel darah putih diperlukan untuk mencegah terjadinya leukopenia

Penurunan dosis hingga 25-33% pada pemberian azatioprin bersama dengan alopurinol

Efek Samping Mata Respirasi GIT

: retinopati : edem pulmo : anoreksia,

hepatotoksik Kulit : alopesia,rash Hematologi : anemia,

pansitopenia Muskuloskletal : atralgia Lain-lain : serum sickness

Dosis Dosis awal : 2-5 mg/kgBB/hari,

dosis pemeliharaan : 1-3 mg/kgBB/hari

Sediaan Tablet: 50 mg,

Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak

Benzatin Penisilin Indikasi Faringitis yang disebabkan oleh Streptokokus,

sifilis dan infeksi treponema lain (ulkus tropikum),

Kontra Indikasi Hipersensitivitas terhadap penisilin,

Peringatan Perhatian Riwayat alergi

Dosis Faringitis streptokokal

profilaksis primer demam rematik Injeksi IM dalam : < 30 kg,

Profilaksis sekunder demam rematik : injeksi IM dalam : > 30 kg,

Sifilis kongenital (bila tidak ada dalam CSF) : injeksi IM dalam : < 2 tahun dosis tunggal 37,5 mg/kgBB

Infeksi Treponema lain (ulkus tropikum) : injeksi IM dalam : 450 mg dosis tunggal

Efek Samping Reaksi hipersensitivitas termasuk urtikaria,

gangguan koagulasi dan toksisitas SSP (pada dosis tinggi atau gagal ginjal berat),

Jarang terjadi reaksi non-alergik (embolic­toxic),

nyeri dan inflamasi pada tempat suntikan

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Sediaan Serbuk injeksi : 1,2 juta IU/mL (vial 4 mL),

Benzil Penisilin Indikasi Pneumonia,

Kontra Indikasi Hipersens